KERAJAAN DEMAK SEBAGAI KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI PESISIR UTARA PULAU JAWA

Gambar

Kehadiran dan penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa dapat dibuktikan berdasarkan data arkeologis dan sumber-sumber babad, hikayat, legenda, serta berita-berita asing. Kehadiran Islam baik para pedagang maupun mubalig muslim di kota-kota yang sejak semula sudah berfungsi sebagai pelabuhan-pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha. Berita asing dari Cina yang ditulis Ma-Huan dari sekitarr tahun 1433 M, berita Portugis terutama dari Tome Pires (1512-1515) memberikan gambaran tentang kehadiran para pedagang dan ulama di kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Islamisasi yang terjadi dibeberapa kota pesisir utara Jawa dari bagian timur sampai barat lambat laun menyebabkan muncunya kerajaan-kerajaan Islam, berturutturut dari Demak ke arah barat muncul Cirebon dan Banten, dan dari Demak ke arah pedalaman mundul kerajaan Pajang dan Mataram. [1]

Demak merupakan sebuah kota kecil yang diapit oleh dua kota besar yaitu ibukota Jawa Tengah Semarang dan Kota Kretek Kudus. Namun siapa sangka kota kecil ini dahulunya merupakan kerajaan Islam pertama yang muncul di Pulau Jawa. Selain kebesarannya dalam kemaritiman, Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Kesultanan Bintoro Demak berhasil menyebarkan agama Islam secara damai tanpa konflik. [2]

Dalam tulisan ini akan dibicarakan khusus mengenai Kerajaan Demak, dari awal kemunculannya pada sekitar abad ke-15 dan keruntuhannya akibat konflik perebutan kekuasaan antara keluarga kerajaan.
 
Pada tahun 1468 M, Prabu Brawijaya V telah resmi dinobatkan menjadi Raja Majapahit dengan bantuan anaknya yaitu Raden Hasan/Raden Fattah dan Raden Husin. Sebagai imbalan karena jasanya, mereka berdua mendapatkan hadiah dari sang raja. Raden Hasan menerima tlatah di hutan Wonolangu yang pada waktu itu masih menjadi kadipaten Jepara. Hutan tersebut terletak diantara Jepara dan wilayah Pandan Arang. Karena ditumbuhi serumpunan tumbuhan glagah yang berbau wangi, maka wilayah tersebut akhirnya dikenal dengan nama Glagahwangi. Sementara itu Raden Husin diangkat menjadi Adipati Majapahit.[3]

Raden Hasan baru membuka hutan Glagahwangi sekitar tahun 1475 M, sejak saat itulah ia dijuluki Raden Fattah oleh gurunya yaitu Sunan Ampel. Daerah tersebut kemudian diberi nama Dukuh Glagahwangi dan kotanya diberi nama Demak yang berarti pemberian, anugrah, hadiah. Dalam waktu yang singkat, Raden Fatttah berhasil mengembangkan wilayah ini menjadi pusat penyebaran dan pembelajaran Islam. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya pesantren yang kemudian didatangi oleh ribuan santri. Selain dalam hal agama, di wilayah ini juga dikembangkan bandar laut. [4]

Pada tahun 1477 M, Raden Fattah diangkat sebagai Adipati Anom Bintoro Demak oleh ayahnya yaitu Brawijaya V. Di tahun ini juga dipercayai Masjid Agung Demak mulai dibangun oleh Raden Fattah dengan bantuan para wali.

Tidak lama kemudian Raja Kediri Prabu Ranawijaya Girindhrawardhana yang berkedudukan di Keling sebelah timur laut Kediri menyerang Majapahit. Dalam pertempuran ini, Raja Brawijaya V dan keluarganya melarikan diri ke Senggaluh di Gunung Lawu. Namun satu tahun kemudian ia berhasil ditemukan oleh Girindhrawardhana dan meninggal disana.[5] Peristiwa ini ditandai dengan candrasengkala Sirna Ilang Kertaning Bhumi (1400 Saka). Yang berarti Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Kertabhumi Brawijaya V telah lenyap. Mungkin angka tahun ini dapat dikaitkan dengan candrasengkala memet yang digambarkan sebagai bulus pada dinding mihrab Masjid Agung Demak yang dapat diartikan tahun 1401 Saka atau 1479 M.[6]

Majapahit telah dikuasai oleh Girindhrawardhana dean menggunakan gelar Prabu Brawijaya VI. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar rakyat dan keluarga Kerthbhumi atau Brawijaya V tidak memberontak dan daerah-daerah kekuasaan Majapahit tidak melepaskan diri. Namun taktiknya dengan menggunakan gelar Brawijaya VI tidak berhasil. Ia dianggap sebagai pemberontak, akibatnya banyak para adipati yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit yang dipimpin oleh Girindhrawardhana.

Mendengar jatuhnya kerajaan Majapahit serta kabar hilangnya Prabu Brawijaya V, maka tanpa berfikir panjang Raden Fattah mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Majapahit. Meskipun serangan mendadak dari Demak ini telah merepotkan kekuatan Majapahit, tetapi serangan pertama ini gagal merebut Majapahit dari Girindhrawardhana. Pasukan Demak lebih sedikit dibandingkan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh adik Raden Fattah yaitu Raden Husin yang telah berkhianat. Raden Husin atau Adipati Terung merupakan anak dari ibu Raden Fattah (Putri Campa) dari pernikahanya dengan Arya Palembang. Ia berkhianat terhadap Majapahit karena sakit hati atas imbalan yang diterimanya ketika membantu Brawijaya V (ayah Raden Fattah) menjadi. Karena hanya menerima jabatan sebagai adipati ia berbelok membantu Girindhrawardhana untuk merebut Majapahit.

Pada tahun 1481, dilakukan serangan kedua terhadap Majapahit. Dengan taktik supit urang, pasukan Bintoro Demak dibawa pimpinan Senopati Sunan Kudus berhasil merebut kembali Kerajaan Majapahitd dari kekuasaan Girindhrawardhana. Ia kemudian ditawan, namun tak berapa lama ia kemudian diperbolehkan melanjutkan roda pemerintahan Kerajaan Majapahit, dibawah kekuasaan Demak. Tahun 1481 merupakan masa kehancuran Kraton Majapahit dan berdirinya Kerajaan Demak.[7]

Pemerintahan Kesultanan Demak secara langsung berada ditangan Raden Fattah. Pada 16 Mei 1482 Raden Fattah dinobatkan menjadi Sultan Bintoro Demak. Setelah itu ia mulai menyusun pemerintahan, mengembangkan perekonomiandan bersama para wali mengembangkan syiar agama Islam ke seluruh wilayah Nusantara.

Dalam usahanya memajukan pemerintahan, Sultan Fattah merintis pembinaan negara maritim, terutama pembentukan angkatan perang Demak yang disusun secara rapi. Tentara Demak tidak hanya bertugas sebagai prajurit melainkan juga sanggup mencapai cita-cita Islam. Pembinaan Angkatan laut Demak semakin berkembang dibawah pimpinan Adipati Unus putra Sultan Fattah

Pada tahun 1511 M, Pati Unus berhasil menaklukkan Jepara dan wilayah ini dijadikan pangkalan armada laut Demak. Kerajaan Demak yang dianggap sebagai pengganti Majapahit semakin memperbesar wilayah kekuasaannya,  khusus ke daerah-daerah pantai (kota-kota pelabuhan) utara pulau Jawa, bahkan sampai ke Sumatra. Pati Unus yang pada waktu itu menjabat sebagai bupati Jepara, sangat giat membantu usaha ayahnya, yaitu memperluas dan memperkuat kedudukan kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam.

Portugis datang ke Nusantara pada tahun 1509 dan berhasil mengusai bandar perdagangan Malaka pada tahun 1511. Taktik monopoli yang diterapkan oleh Protugis sangat merugikan kerajaan-kerajaan yang melakukan perdagangan di Malaka, salah satunya adalah Demak. Dengan dikuasainya Malaka oleh Portugis, penyiaran Islam mengalami hambatan untuk itu Sultan Demak melakukan serangan ke Malaka. Selain untuk masalah agama, penyerangan ini juga dimaksudkan untuk menguasai perekonomian  Malaka yang menjadi kunci perdagangan di Asia Tenggara.

Sultan Fattah memberi tugas kepada putranya Pati Unus untuk mempersiapkan penyerangan ke Malaka sekitar tahun 1513. Ia berangkat dengan kekuatan 90 jung dan 12.00 prajurit dari pelabuhan Jepara. Sebelum tiba di Malaka, ia menghimpun bantuan dari Palembang dan Samudra Pasai. Dalam pertempuran laut tersebut, ternyata pasukan yang dipimpin oleh Pati Unus berhasil dipukul mundur dan dikalahkan oleh Portugis. Pati Unus berhasil selamat dan kembali ke Jawa. Karena keberaniannya memimpin perang melewati Laut Utara Jawa, Pati Unus mendapat julukan sebagai Pangeran Sabrang Lor. [8]

Pada tahun 1515 wilayah Demak sudah meliputi daerah pesisir utara pulau Jawa, yaitu dari Demak hingga Cirebon, bahkan sampai di Palembang. Sementara daerah-daerah di sebelah timur Demak akhirnya juga ditaklukkan dengan peperangan-peperangan yang terjadi antara tahun 1525-1546. Sebagai ibukota kerajaan, Demak sangat strategis dan menguntungkan baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada zaman tersebut diperkirakan letak wilayah Demak berada di tepi selat di antara pegunungan Muria dan Jawa yang dapat di layari. Dengan demikian kapal-kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk ke Rembang.[9]

Pada tahun 1518 Sultan Fatah wafat diusia 70 tahun. Sebagai penggantinya adalah putranya yaitu Pati Unus yang bergelar Sultan Demak Syah Alam Akbar II. Ia juga terkenal sebagai Pangeran Sabrang Lor.[10] Ia adalah seorang yang tegas dalam mengambil keputusan dan seorang ksatria dan teman seperjuangan Pate Zainal dari Gresik.[11] Ia memiliki cita-cita puntuk mengembalikan kejayaan Majapahit melaui Demak. Visi besarnya adalah ingin menjadikan Demak sebagai Kesultanan Maritim yang besar.

Adipati Unus berhasil menyerang kembali Majapahit yang pada waktu itu berada dibawah kekuasaan Prabu Udhara. Sebagai bukti runtuhnya Majapahit, Pati Unus memindahkan pusaka-pusaka Majapahit ke Demak. Pada tahun 1520, ia menggunakan 8 tiang pendapa Kerajaan Majapahit sebagai tiang serambi Masjid Agung Demak. Pati Unus meninggal dunia pada usia 28 tahun tepatnya pada tahu 1521.

Raja ketiga Kerajaan Demak adalah Pangeran Trenggana yang pada waktu Tome Pires ke Demak yang disebut sebagai Pate Rodim Jr. (Muda). [12] Ia bergelar Sultan Bintoro Demak Syah Alam Akbar III. Trenggana sepertinya memerintah Demak dua kali, sekitar tahun 1505-18 dan sekitar 1521-46; kurun waktu antara dua masa pemerintahan tersebut diisi oleh iparnya, Raja Yunus dari Jepara, Trenggana mengatur pengluasan pengaruh Demak ke arah timur dan barat.[13]

Sultan Trenggana meluaskan kekuasaannya ke Jawa Barat terutama mengirimkan pasukannya yang dipimpin oleh Fatahillah yang berasal dari Pasai untuk menyerang Sunda Kelapa. Sebelum ke Sunda Kelapa ia dan pasukannya singgah di Cirebon dan juga dengan dorongan Sunan Gunung Jati mertuanya berangkat ke Kelapa dibarengi dengan pasukan gabungan dari Cirebon. Dari arah barat pelabuhan Sunda Kelapa diserang sehingga armada Portugis ddibawah pimpinan Francisco de Sa dipukul mudur dan Sunda Kelapa dapat dipukul mundur dan akhirnya dapat direbut. Oleh Fatahillah Sunda Kelapa diganti dengan nama Jayakarta.

Di Jawa bagian timur, Trenggana juga meluaskan politiknya terutama menduduki daerah-daerah yang masih beragama Hindu. Pada tahun 1546, Sulta Trenggana memimpin sendiri ekspedisi militer untuk mendudukkan Panarukan Jawa Timur yang tidak mau mengakui kekuasaan Demak. Dalam penyerangan ini Sultan Trenggana terluka dan wafat dalam perjalanan pulang ke Demak.[14]

Pada tahun 1546, kekuasaan Demak digantikan oleh anak dari Sultan Trenggana yangbernama Pangeran haryo Bagus/ Sunan Prawoto. Pada masa pemerintahan Sunan Prawoto terjadi perebutan tahta Kesultanan antara putra-putri dan menantu Sultan Trenggana yaitu Sunan Prawoto, Ratu Kalinyamat dan menantunya Jaka Tingkir serta keluarga adik Sultan Trenggana yang bernama Pangeran Sedo lepen yang mempunyai putra mahkota Arya Penangsang.

Suna  Prawoto tidak lama memegang pemerintahan karena beliau terbunuh. Sejak saat itulah terjadi fitnah dan perebutan tahta Kasultanan Demak. Pada tahun 1546-1550 adalah masa perbutan tahta Kesultanan Demak antara Jaka Tingkir dengan Arya Penangsang. Tahun 1550-1568, Jaka Tingkir/Sultan Hadi Wijaya menjadi Sultan Bintoro VI sekaligus sebagai Sultan Pajang I.

Pada tahun 1568, Kesultanan Demak pindah ke Pajang dan berakhirlah Kesultanan Demak.

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam terbesar di Pantai Utara Jawa. Menurut tradisi Jawa, Demak sebelumnya merupakan kadipaten dari Kerajaan Majapahit. Tercatat Demak menjadi pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang dan saling mengklaim sebagai pewaris Majapahit.

Demak dipimpin oleh tiga raja, yang pertama adalah Sultan Fatah yang bergelar Sultan Demak Syah Alam Akbar I, yang kedua adalah Pati Unus yang bergelar Sultan Demak Syah Alam Akbar II dan yang ketiga adalah Sultan Trenggana dengan gelar Sultan Demak Syah Alam Akbar III.

Pada masa Kesultana Bintoro Demak memiliki peranan sebagai pusat penyiaran agama Islam, pusat pemerintahan dengan daerah-daerah bawahan yang terserbar di Jawa, sebagai kerajaan maritim dan pusat perdagangan, serta sebagai pusat pengembangan budaya Islam dan pusat perekonomian.

Kerajaan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Demak beralih ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tinggir.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Djoned P, Marwati dan Nugroho Notosusanto., Sejarah Nasional Indonesia jilid III edisi pemuthakiran (Jakarta: Balai Pustaka 2008).

Djuliati Suroyo, A. M. dkk Sejarah Maritim Indonesia 1: Menulusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad-17 (Semarang: Jeda 2007)

Khafid K, Muhammad., Sejarah Demak : Matahari terbit di Glagahwangi, (Demak: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak, 2008).

Ricklefs, M. C., Sejarah Indonesia Modern, cet.ke-8 terjemahan Dharmono Hardjowidjono (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005).


[1] Marwati Djoned P, Sejarah Nasional Indonesia jilid III edisi pemuthakiran (Jakarta: Balai Pustaka 2008),  hlm. 50.

[2] Muhammad Khafid K, Sejarah Demak : Matahari terbit di Glagahwangi, (Demak: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak, 2008), hlm. 119.

[3] Muhammad Khafid K, ibid., hlm. 33.

[4] Muhammad Khafid K, ibid., hlm. 41-42.

[5] Muhammad Khafid K, ibid., hlm. 48.

[6] Marwati Djoned P, op.cit., hlm 52.

[7] Muhammad Khafid K, op.cit., hlm. 63

[8] Muhammad Khafid K, ibid., hlm. 90-93.

[9]  A. M. Djuliati Suroyo, dkk, hlm. 54.

[10] Muhammad Khafid K, op.cit., hlm. 98

[11] Marwati Djoned P, loc.cit.

[12]  Marwati Djoned P, ibid., hlm 54

[13]M.C Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, cet.ke-8 terjemahan Dharmono Hardjowidjono (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 54-55.

[14] Muhammad Khafid K, op.cit., hlm. 101.

2 pemikiran pada “KERAJAAN DEMAK SEBAGAI KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI PESISIR UTARA PULAU JAWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s