METODE HERMENEUTIKA BAGI ILMU-ILMU HUMANIORA

METODE HERMENEUTIKA
BAGI ILMU-ILMU HUMANIORA

Disusun untuk memenuhi tugas Filsafat Ilmu
Pengampu Drs. Mulyono, M.Hum

Disusun oleh :
Arum Widyaningsih
NIM 13030110130049

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Sejarah telah mencatat bahwa, ilmu pengetahuan tidak begitu saja muncul dan diterima oleh masyarakat. Cukup banyak generalisasi yang tidak memadai mengenai sifat dasar ilmu pengetahuan. Memahami ilmu pengetahuan bukan saja perlu mengamati apa yang diperbuat oleh seorang ilmuan, akan tetapi juga mengetahui apa yang mendorongnya menekuni ilmu pengetahuan sebagai karir atau hobi. Sifat ilmu pengetahuan adalah upaya mencari pengetahuan. Ini berarti bahwa minat ilmuan senantiasa diarahkan oleh rasa cinta akan pengetahuan-dorongan untuk memuaskan rasa ingin tahu seseorang mengenai hal dan proses tertentu dan luapan rasa gembira telah menemukan dan memahami sesuatu yang diperoleh seseorang apabila dorongan itu terpenuhi. Memang benar bahwa cinta akan pengetahuan tidak merupakan satu-satunya motivasi kegiatan ilmiah.
Ilmu pengetahuan dicirikan sebagai usaha untuk mengumpulkan hasil pengetahuan secara teratur dan sistematis, berkat adanya refleksi. Pengungkapan hasil itu terjadi dalam macam-macam model, yang dapat digolongkan menjadi dua dasar, yaitu model apristeriori dan model apriori. Model apriori dirintis oleh Plato, sedangkan Aristoteles mengutarakan suatu model ilmu dimana sebagai hasil dari pemeriksaan aposteriori diperoleh suatu “pengetahuan melalui sebab musabab”, yang faham apriorinya menjadi ciri khas ilmu.
Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah cabang-cabangnya. Hasrat untuk menspesialisasikan diri pada satu bidang telaahan yang memungkinkan analisis yang makin cermat dan dilaksanakan mengakibatkan objek forma dari disiplin keilmuan menjadi semakin terbatas.
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menajadi rumpun ilmu-ilmu laman (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (the socaial sciences).
Dengan menggunakan pendekatan epistimologi yaitu ingin mengetahui metode dalam suatu ilmu tertentu, dalam makalah ini, penulis akan mencoba memaparkan beberapa penjelasan dinamika metode yang digunakan dalam disiplin ilmu humaniora, hingga akhirnya muncul dan berkembang sebuah metode yang diciptakan oleh Wilhelm Dilthey yaitu metode hermeneutika bagi ilmu-ilmu humaniora. Penulis memberikan contoh penerapan metode hermeneutika pada salah satu ilmu humaniora yaitu ilmu sejarah. Meskipun demikian makalah ini mencoba menelusuri penggunaan metode hermeneutika pada ilm-ilmu humaniora pada umumnya.

2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah disampaikan, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan di jawab dalam makalah ini, yaitu :
1. Bagaimana sejarah dan perkembangan ilmu humaniora ?
2. Bagaimana dinamika metode untuk ilmu humaniora ?
3. Apakah metode hermeneutika itu?
4. Apakah kaitan antara metode hermeneutika dengan ilmu humaniora? Dan bagaimana menggunakan metode hermeneutika dalam ilmu humaniora?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Humaniora

Setelah pada abad ke-16 Copernicus menemukan teori heliosentris, persepsi manusia tentang alam berubah. Hal itu membawa pula perubahan pandangan tentang manusia. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan Rene Descartes yang dikenal dengan adagium Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya usaha untuk memahami tentang alam raya, tetapi harus pula memahami tentang diri manusia. Masa renaissance dipandang sebagai awal kebangkitan dari tidur panjang akibat dogmatisme agama dengan ciri-ciri utamanya kebebasan, individualistik, rasionalistik, optimistik, dan kreativitas. Besarnya perhatian terhadap peranan manusia dalam ilmu pengetahuan dipertegas kembali pada zaman Aufklarung dengan semboyan Sapere Aude! Beranilah berpikir sendiri.
Pergeseran pandangan yang bercorak antroposentrisme kembali lagi pada kosmosentrisme pada masa sekarang, bahkan secara ekstrim alam dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari manusia. Koento Wibisono berpendapat bahwa Positivisme Auguste Comte mengemukakan tiga tahap perkembangan peradaban dan pemikiran manusia ke dalam tahap theologis, metafisik, dan positivistik. Pada tahap theologis pemikiran manusia dikuasai oleh dogma agama, pada tahap metafisik pemikiran manusia dikuasai oleh filsafat, sedangkan pada tahap positivistik manusia sudah dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahap ketiga itulah aspek humaniora disusutkan ke dalam pemahaman positivistik yang bercorak eksak, terukur, dan berguna. Ilmu-ilmu humaniora baru dapat dikatakan sejajar dengan ilmu-ilmu eksak manakala menerapkan metode positivistik. Pada abad ke-20 dnia ilmiah nyaris dikuasai ilmu-ilmu eksak – meminjam istilah Dilthey natuurwissenschaft, sedangkan Geisteswissenschaft harus mengekor pada metode ilmiah yang bercorak positivistik.
Menurut Woodhouse, menegaskan bahwa istilah humaniora yang berasal dari program pendidikan yang dikembangkan Cicero, yang disebutnya humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk menjadi orator yang ideal. Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah pada pertanyaan tentang makna dalam cara lain bahwasanya pengertian umum humanitas berarti kualitas, perasaan, dan peningkatan martabat humaniora dan lebih berfungsi normatif daripada deskriptif. Gellius mengidentikkan humanitas dengan konsep Yunani paideia , yaitu pendidikan (humaniora) yang ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk menjadi manusia dan warga negara bebas. Pada zaman Romawi gagasan tersebut dikembangkan menjadi program pendidikan dasariah. Beralih pada zaman Pertengahan pendidikan humaniora berusaha menyatukan konsep paideia dengan kekristenan. Ketika memasuki zaman Renaissance para humanist Italia menghidupkan kembali istilah humanitas, sebagaimana dipakai oleh Cicero, dan menjadi studia humanitatis, yang mencakup gramatika, retorika, puisi, sejarah, dan filsafat. Ketika itu dibedakan antara apa yang dianggap Kekristenan dan apa yang dianggap secara otentik merupakan esensi humaniora. Oleh karena itu kemudian berkembang perbedaan antara studi divinitas dan studi humanitatis.
Pengertian humanitas kemudian berkembang ke dalam dua makna khusus, yaitu pertama mengacu pada perasaan humaniora dan tingkah laku yang mengarah pada hal-hal seperti: kelemahlembutan, penuh pertimbangan, kebajikan. Kedua, tujuan pendidikan liberal sebagaimana yang diformulasikan John Henry Newman dalam gagasan tentang sebuah universitas. Humanitas juga mengacu pada pengembangan intelektual dan pelatihan intelektual atau proses dan tujuan utama pendidikan liberal.. Pendidikan humaniora dianggap mempunyai fungsi pengembangan “humanitas” dalam diri manusia. Meskipun pada zaman Aufklarung humaniora banyak dikritik, tetapi program itu tetap menjadi dasar pendidikan pada abad 18 dan 19. Pada awal abad 19, ditekankan perbedaan antara ilmu-ilmu humaniora dan ilmu-ilmu alam. Dilthey membagi ilmu menjadi dua kelompok yakni Natuurwissenschaft dan Geisteswissenschaft. Setelah itu humaniora tidak lagi dipandang sebagai dasar dari program pendidikan, tetapi lebih-lebih dilihat sebagai dimensi fundamental dari dunia pengetahuan manusia.
Pengertian humanities dewasa ini merupakan sekelompok disiplin pendidikan yang isi dan metodenya dibedakan dari ilmu-ilmu fisik dan biologi, dan juga paling tidak dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial. Kelompok studi humanities meliputi bahasa, sastra, seni, filsafat, sejarah. Disini inti humanitas kadangkala ditentukan sebagai sekolah atau bagian dari sebuah universitas moderen.
Bidang humaniora, khususnya di Indonesia sebagaimana halnya ilmu sosial telah berperan dan menjadi saksi nyata perkembangan fenomenal dari suatu paradigma baru dalam ilmu-ilmu budaya. Paradigma baru ini mencoba memahami secara kritis bagaimana gerak budaya, dan dasar kekuatannya terletak pada karya di balik praktek-praktek budaya. Di Indonesia meskipun unsur-unsur studi budaya telah membuka atau meratakan jalan masuk ke dalam kurikulum beberapa program studi di bidang ilmu humaniora dan ilmu sosial, juga aktivitas berbagai kelompok peneliti independen, namun sebagian besar masih dipahami sebagai sisi luar dari body of knowledge.
Humaniora pada abad ke-20 mengalami perubahan yang mendalam dalam sistem pendidikan di Barat dikarenakan beberapa faktor seperti: proliferasi ilmu-ilmu pengetahuan alam pada abad keduapuluh: perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya spesialisasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan: perkembangan ilmu-ilmu perilaku (behavioral sciences) dan ilmu-ilmu sosial yang berbeda dari humaniora atau ilmu-ilmu humaniora.
Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhartiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan. Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif. Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalili-dalil akal, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif.
Bagi Ignas Kleden yang merujuk pendapat J. Habermas menunjukkan lima ciri ilmu humaniora yang diletakkan dalam kategori hitoris-hermeneutis sebagai berikut. Pertama, jalan untuk mendekati kenyataan melalui pemahaman arti. Kedua, ujian terhadap salah benarnya pemahaman tersebut dilakukan melalui interpretasi, interpretasi yang benar akan meningkatkan intersubjektivitas.. Ketiga, pemahaman hermeneutis selalu merupakan pemahaman berdasarkan pra-pengertian. Pemahaman terjadi apabila tercipta komunikasi antara kedua situasi tersebut. Keempat, komunikasi tersebut akan menjadi semakin intensif apabila situasi yang hendak dipahami oleh pihak yang hendak memahaminya diaplikasikan kepada dirinya sendiri. Kelima, kepentingan yang ada disini adalah kepentingan untuk mempertahankan dan memperluas intersubjektivitas dalam komunikasi yang dijamin dan diawasi oleh pengakuan umum tentang kewajiban yang harus ditaati. Kesimpulannya ilmu humaniora akan menghasilkan interpretrasi-interpretasi yang memungkinkan adanya suatu orientasi bagi tindakan manusia dalam kehidupan bersama.

B. Dinamika Metode bagi Ilmu Humaniora

Pada pertengahan abad ke19 sejak August Comte memperkenalkan positivisme, determinisme metode ilmu kealaman begitu kuat merasuk ke dalam metode ilmu-ilmu humaniora, ilmu sosial atau ilmu budaya. Keyakinan bahwa hanya metode ilmu kealaman yang bisa masuk kategori ilmiah, karena mengklaim objektivitas, membuat homogenisasi metode menjadi begitu kental. Kesadaran akan kedudukan ilmu-ilmu humaniora dibandingkan dengan ilmu-ilmu empiris lain, setelah zaman teologi dan metafisis tibalah zaman ilmu-ilmu positif (empiris) yang definitif. Pada tahap pengetahuan positif menurut Comte dimulai dari yang paling abstrak : matematika, ilmu falak, fisika, kimia, ilmu hayat, fisika sosial (sosiologi). Semua ilmu dalam keadaan “jadi”-nya seolah-olah ingin mendekatan ciri deduktif dan kepastian matematika, namun semuanya tak pernah berhasil. Yang paling berhasil mendekat adalah ialah ilmu falam, dan yang paling jauh adalah fisika sosial, kendati ilmu ini pun bagan deduktif.
Kecenderungan ini diperkuat ketika ilmu humaniora/humaniora, ilmu sosial dan ilmu budaya tak kunjung bisa menyelesaikan problem internal perselisihan metode yang layak disebut ilmiah. Proses homogenisasi dan determinasi metodologis ini tak lepas dari kesibukan para filsuf untuk selalu berbicara tentang bagaimana seseorang menyadari keberadaan objek-objek fisik, dan sejauh mana unsur-unsur subjektif memasuki dan mempengaruhi pengalaman kita tentang objek fisik tersebut. Seolah-olah objek pengetahuan yang paling penting hanyalah objek-objek fisik.
Upaya Immanuel Kant untuk memberikan basis epistemologis bagi ilmu kealaman melalui ketegori-kategori apriorinya menunjukkan betapa pentingnya proyek metodologis ini. Sebagai akibat dari proses ini, maka ilmu sosial, humaniora atau budaya banyak menerapkan metode ilmu kealaman, yang menekankan kuantifikasi, seperti observasi, ekspriment, dan statistik. Tak dipungkiri bahwa penerapan metode ilmu kealaman yang lebih eksak dan menekankan kuantifikasi ikut menyumbang beberapa bagian penting perkembangan dalam ilmu-ilmu humaniora, sosial, atau kebudayaan seperti sosiologi, psikologi, juga ekonomi.
Munculnya kesadaran dikalangan komunitas ilmuan sosial, humaniora dan budaya, sebenarnya bukan kesadaran yang tiba-tiba saja muncul. Proses untuk menyadari problem yang begitu urgen untuk diselesaikan ini sudah muncul lama pada akhir abad-19 dan awal abad-20 ketika Wilhelm Dilthey (1833-1911) mencoba untuk membedakan antara dua bidang ilmu pengetahuan yaitu Geisteswissenschaften (ilmu humaniora) dan Naturwissenschaften (ilmu kealaman). Bagi Dilthey dua bidang ini menuntut pendekatan dan metode yang berbeda, karena keduanya memiliki objek pembahasan yang berbeda. Ilmu kealaman berurusan dengan benda-benda fisik, sementara ilmu humaniora ata humaniora berurusan dengan hidup manusia.
Dilthey merasakan ancaman saintisme yang begitu meluas. Ia begitu menyadari bahwa ada bidang-bidang yang tidak bisa disentuh dengan metode ilmu kealaman yaitu kekayaan pengalaman yang bergelora dan dinamis dalam kehidupan. Bidang ini tidak bisa disentuh dengan penjelasan (erklaren) sebagai model metodis dalam ilmu kealaman. Bidang ini hanya bisa disentuh dengan pemahaman (verstehen) dan interpretasi (hermeneutika). Dengan kata lain, Ilmu kealaman memerlukan metode erklaren, penjelasan atau eksplanasi, sementara ilmu humaniora memerlukan metode verstehen, pemahaman dan interpretasi (hermeneutika).
Maka menelusuri kembali pemikiran Wilhelm Dilthey adalah bagian dari proses penting untuk memahami karakter dasar yang berbeda antara ilmu kealaman dan ilmu humaniora berikut metode hermeneutikanya. Karena tak dapat dipungkiri bahwa banyak filsuf dan ilmuan dikemudian hari mengambil inspirasi dari pemikiran Dilthey tentang metode yang ia tawarkan.
Apabila kategori-kategori apriori diperkenalkan oleh Kant, maka Dilthey memperkenalkan kategori hidup. Kategori apriori Kant lebih berorientasi bagaimana menjelaskan kenyataan-kenyataan fisik, sementara kategori hidup dari Dilthey berpretensi untuk memahami hidup dalam pengalaman yang terstruktur. Kategori-kategori penting yang ditawarkan oleh Dilthey diantaranya kategori luar-dalam, kategori maksud, nilai, makna, kategori keseluruhan-bagian. Namun kategori ini bukanlah kategori statis dan tetap. Ia semakin bertambah seiring jalannya proses kehidupan itu sendiri.
Perbedaan ilmu alam dan dan ilmu humaniora secara nyata terletak dalam dua hal. Pertama, pada objek dan kedua, pada posisi subjek dan objek. Objek pengetahuan ilmu humaniora adalah manusia berikut kompleksitas jaringan pikiran, kehendak dan tindakannya. Sedangkan posisi subjek dan objek berada dalam situasi yang saling mempengaruhi. Hal ini sedikit agak berbeda dengan ilmu alam di mana benda sebagai objek pengetahuan memiliki karakter yang relatif pasti dan bisa diduga. Posisi objek dalam banyak hal tidak mempengaruhi subjek dan begitu pula sebaliknya.
Jika Dilthey membicarakan ilmu humaniora maka yang dimaksud adalah ilmu sejarah, ekonomi, ilmu hukum dan politik, ilmu kesusasteraan, psikologi dan lain-lain. Dilthey membedakan secara tajam antara Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften. Semua ilmu yang termasuk dalam kategori ilmu alam seperti biologi, kimia, fisika dan lainnya mempergunakan metode induksi dan eksperimen. Metode ini lebih bersifat erkleren atau menjelaskan dari pada verstehen atau memahami. Sedangkan ilmu-ilmu humaniora menuntut pendekatan yang mampu menembus jantung pengalaman yang hidup dalam setiap objeknya. Dalam kerangka inilah Dilthey menawarkan hermeneutika sebagai metode bagi ilmu humaniora.

C. Metode Hermeneutika
Seperti yang telah diungkapkan, metode hermeneutika menurut sejarahnya telah digunakan di dalam penelitian teks-teks kuno yang otoritatif misalnya kitab suci, kemudian diterapkan di dalam teologi dan direfleksikan secara filosofis, sampai akhirnya menjadi metode dalam ilmu-ilmu sosial. Kemudian, sejauh hermeneutika merupakan penafsiran teks, maka dia juga digunakan di dalam bidang yang lain, seperti ilmu sejarah, hukum, sastra, dan sebagainya. Hal tersebut juga berhubungan dengan kenyataan bahwa ekspresi manusia yang memiliki unsur penuh makna yang perlu disadari oleh subyek dan yang diubah menjadi sistem nilai dan maknanya sendiri telah melahirkan “permasalahan hermeneutis” yakni sebagai proses itu dapat dilakukan, dan bagaimana mengubah makna subjektif menjadi makna objektif yang ditempuh melalui subjektivitas penafsir (interpreter).
Dalam teori hermeneutika pembaca harus mampu mengisi pemahamannya dengan keutamaan-keutamaan yang ditemukan dalam pengalaman hidupnya. Dengan kata lain, pembaca harus mampu mengungkapkan fenomenologi eksistensi dirinya sendiri. Fenomenologi eksistensi manusia akan selalu berhubungan dengan makna kehidupan dari semua bentuk sinyal dan simbol, praktek sosial, kejadian sejarah dan karya seni. Dengan dasar perolehan makna dari semua sinyal, simbol, praktek sosial, kejadian sejarah dan karya seni, maka manusia dapat menyusun kembali objective meaning. Teori hermeneutika berperan penting dalam membantu membongkar suatu ruang lingkup pemikiran yang tidak terpikirkan menjadi terpikirkan di tengah-tengah upaya memahami objective meaning.
Dilthey berambisi untuk meyusun sebuah dasar epistemologis bagi ilmu humaniora, terutama ilmu sejarah. Tantangan yang dihadapi Dilthey adalah bagaimana menempatkan penyelidikan sejarah supaya sejajar dengan penelitian ilmiah dalam bidang ilmu alam. Perbedaan objek kedua ilmu ini cukup mencolok. Bila ilmu humaniora mengenal dua dimensi eksterior dan interior bagi objeknya, maka ilmu alam hanya mengenal dimensi eksterior.
Dilthey menganjurkan penggunaan hermeneutika, sebab baginya, hermeneutika adalah dasar dari Geisteswissenschaften. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya, diperlukan bentuk pemahaman yang khusus. Hermeneutikanya Dilthey berkisar pada tiga unsur yaitu Verstehen (memahami), erlebnis (dunia pengalaman batin) dan Ausdruck (ekspresi hidup). Ketiga unsur ini saling berkaitan dan saling mengandaikan.
Erlebnis adalah kenyataan sadar keberadaan manusia dan merupakan kenyataan dasar hidup dari mana segala kenyataan dieksplisitkan. Dalam erlebnis hidup merupakan realitas fundamental yang teralami secara langsung, sehingga belum memunculkan pembedaan subjek dan objek. Erlebnis adalah basis kenyataan bagi munculnya imaginasi, ingatan dan pikiran. Ia ada sebelum ada refleksi dan sebelum ada pemisahan subjek dan objek.
Ausdruck atau ekspresi adalah ungkapan kegiatan jiwa. Ekspresi muncul dalam berbagai bentuk tindakan. Ada beberapa bentuk ekspresi; Pertama, ekspresi yang isinya telah tetap dan identik, seperti, rambu-rambu lalu lintas. Kedua, ekspresi tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bisa individual atau serangkaian tindakan yang panjang. Ketiga, ekspresi spontan, seperti tersenyum, tertawa, kagum dan seterusnya. Ekspresi ini merupakan ungkapan perasaan yang kadang dangkal, dan kadang sangat dalam.
Sementara itu verstehen atau pemahaman adalah suatu proses mengetahui kehidupan kejiwaan lewat ekspresi-ekspresinya yang diberikan pada indera. Memahami adalah mengetahui yang dialami orang lain, lewat suatu tiruan pengalamannya. Dengan kata lain verstehen adalah menghidupkan kembali atau mewujudkan kembali pengalaman seseorang dalam diriku.
Ilmu humaniora, khususnya sejarah, tidak akan memperoleh pengetahuan yang dicari tanpa mempergunakan verstehen atau pemahaman yang membedakannya dari ilmu alam. Manusia sebagai objek pengertian dalam ilmu humaniora memiliki kesadaran. Dan ini memungkinkan bagi penyelidikan tentang alasan-alasan tersembunyi dibalik perbuatannya yang dapat diamati. Kita dapat memahami perbuatan dengan mengungkap pikiran, perasaan dan keinginannya. Ilmu humaniora tidak hanya mampu mengetahui apa yang telah diperbuat manusia tetapi juga pengalaman batin (erlebnis), pikiran, ingatan, keputusan nilai dan tujuan yang mendorongnya berbuat.
Perbuatan atau tindakan merupakan ekspresi jiwa manusia, ide dan arti yang diharapkan oleh individu maupun masyarakat, yang berupa kata, sikap, karya seni dan juga lembaga-lembaga sosial. Kita akan memahami ekspresi (ausdruck) dengan menghayati kembali dalam kesadaran kita sendiri, penghayatan yang menimbulkan ekspresi tadi.
Peneliti ilmu humaniora harus berusaha seperti hidup dalam objeknya, atau membuat objek hidup dalam dirinya. Dengan penghayatan tersebut akan memudahkan munculnya verstehen atau pemahaman. Dalam konteks ilmu sejarah, dengan menghayati kembali masa lampau, sejarawan akan memperluas dan membuat berkembang kepribadiannya, menggabungkan pengalaman pada masa lalu ke dalam pengalaman masa kini.
Setiap pengalaman baru, menurut isinya ditentukan oleh semua pengalaman yang sampai pada saat itu kita miliki; sebaliknya, pengalaman baru itu memberi arti dan penafsiran baru kepada pengalaman-pengalaman lama. Bila seorang peneliti ingin mengerti perbuatan pelaku sejarah yang berupa ekspresi-ekspresi (ausdruck), maka ia harus merekonstruksikan kesatuan dan kebersatuannya dengan pengalaman batin (erlebnis).
Dengan merekonstruksikan pengalaman hidup seorang pelaku sejarah ke dalam batin seorang peneliti akan dihasilkan efek yang sama seperti halnya pelaku sejarah mengalaminya pada waktu itu. Verstehen atau memahami adalah kegiatan memecahkan arti tanda-tanda ekspresi yang merupakan manifestasi hidup atau hasil kegiatan jiwa. Verstehen adalah proses di mana kehidupan mental diketahui melalui ekspresinya yang ditangkap oleh panca indera. Walaupun demikian ekspresi tersebut lebih dari sekedar kenyataan fisik, karena ia dihasilkan oleh kegiatan jiwa.
Proses memahami dan menginterpretasi seperti yang dikehendaki oleh Dilthey di atas memerlukan beberapa persyaratan. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi maka menjadi sulit bagi proses pemahaman dan interpretasi. Persyaratan pertama adalah bahwa peneliti harus membiasakan diri dengan proses-proses psikis yang memungkinkan suatu makna. Untuk mengerti tentang kecemasan, cinta, harapan dibutuhkan kemampuan pengalaman akan hal tersebut. Untuk itu bagi Dilthey, hermeneutika perlu juga dilengkapi dengan studi psikologi deskriptif. Syarat kedua adalah pengetahuan tentang konteks. Untuk mengerti suatu bagian memerlukan pengetahuan tentang keseluruhan. Suatu kata hanya bisa dimengerti dalam konteks yang lebih luas, demikian juga tindakan manusia juga hanya bisa dipahami melalui konteks yang lebih luas. Syarat ketiga adalah pengetahuan tentang sistem sosial dan kultural yang menentukan gejala yang kita pelajari. Untuk mengerti suatu kalimat harus mengetahui konteks aturan main dalam bahasa yang bersangkutan. Syarat ini berkaitan erat dengan syarat kedua. Studi tentang satu pemikiran menghendaki konteks karya-karya yang lain, dan studi tentang karya menghendaki konteks sosial-historis yang lebih luas.
Meskipun orang menyadari keadaaan dirinya sendiri melalui ekspresi orang lain namun orang masih dirasa perlu untuk membuat interpretasi atas ekspresi atau ungkapan tersebut. Dan hermeneutik hanya akan bekerja jika ekspresi atau ungkapan-ungkapan tersebut tidak asing atau sudah kita kenal. Jika ungkapan tidak mengandung sesuatu yang bersifat ganjil atau misteri, maka hermeneutika menjadi tidak perlu. Demikian juga bila sama sekali asing maka hermeneutika menjadi tidak mungkin.
Pada satu sisi tidak bisa dihindari bahwa interpretasi terhadap ekspresi untuk menemukan kebertautannya dengan erlebnis senantiasa melibatkan apa yang disebut lingkar hermeneutik. Terlalu sulit dideskripsikan secara logis ketat kapan suatu pemahaman tercapai. Suatu bagian hanya dapat dipahami melalui keseluruhan, sementara suatu keseluruhan hanya dapat dipahami melalui bagian. Seorang peneliti hanya dapat memahami pikiran-pikiran hanya dengan menunjuk situasi yang membangkitkan pikiran itu. Sedang situasi yang membangkitkan pikiran tersebut hanya dapat dipahami berdasarkan apa yang sudah dipikirkan.
Pemahaman dan makna senantiasa bergantung pada hubungannya dan merupakan bagian dari situasi. Hal ini selalu terkait dengan perspektif dan situasi historis. Kenyataan adanya lingkaran dalam proses pemahaman mengungkapkan bahwa masing-masing bagian mengandaikan yang lain sehingga konsepsi pemahaman tanpa pengandaian tidak memiliki dasar faktual. Tapi bukan berarti hermeneutika ini menjadi proses semaunya. Setidaknya Dilthey menekankan beberapa hal yang bisa dianggap sebagai aturan main sebuah hermeneutika.
Dilthey sangat menekankan “kedekatan batin” yang memberikan ciri khas pada “pengalaman yang hidup” (Lived experience). Pengalaman inilah yang menjadi objek sesungguhnya dari hermeneutika. Pengalaman-pengalaman hidup kita sehari-hari tidak dapat seluruhnya disebut sebagai “pengalaman yang hidup”. Hanya pengalaman yang bisa memberi ‘kedekatan batin’ terhadap masa lalu dan masa depan saja yang bisa disebut sebagai ‘pengalaman yang hidup’. Untuk memperoleh interpretasi dan pemahaman dalam ilmu humaniora, khususnya sejarah, setidaknya ada tiga langkah dalam pengopresian hermeneutika. Pertama, memahami sudut pandang atau gagasan asli pelaku. Kedua, memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. Ketiga, menilai peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat peneliti masih hidup.
BAB III
KESIMPULAN

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa ilmu humaniora merupakan studi yang memusatkan perhartiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan. Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif. Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalili-dalil akal, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif.
Ketika ilmu humaniora, tak kunjung bisa menyelesaikan problem internal perselisihan metode yang layak disebut ilmiah, karena semakin disusutkan oleh metode ilmu-ilmu alam. Proses untuk menyadari problem yang begitu urgen untuk diselesaikan ini sudah muncul lama pada akhir abad-19 dan awal abad-20 ketika Wilhelm Dilthey (1833-1911) mencoba untuk membedakan antara dua bidang ilmu pengetahuan yaitu Geisteswissenschaften (ilmu humaniora) dan Naturwissenschaften (ilmu kealaman). Menurut Diltehey ilmu humaniora hanya bisa disentuh dengan pemahaman (verstehen) dan interpretasi (hermeneutika).
Dilthey menganjurkan penggunaan hermeneutika, karena baginya, hermeneutika adalah dasar dari Geisteswissenschaften. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya, diperlukan bentuk pemahaman yang khusus. Hermeneutikanya Dilthey berkisar pada tiga unsur yaitu Verstehen (memahami), erlebnis (dunia pengalaman batin) dan Ausdruck (ekspresi hidup). Ketiga unsur ini saling berkaitan dan saling mengandaikan.
Dari metode hermeneutika inilah nantinya, ilmu humaniora dapat dibedakan dengan ilmu-ilmu alam sehingga ilmu humaniora pada waktu tertentu dapat berdiri sendiri tanpa menggunakan cara kerja ilmu-ilmu alam tidak seperti ketika ilmu ini baru mulai berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Ankersmit, F.R,. Refleksi tentang Sejarah, Pendapat-pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah. terj. Dick Hartoko, ( Jakarta, Gramedia. 1987).
A.S.P Woodhouse, The Nature of Humanities: Historical Perspective, (http:/charon.sfsu.edu, diunduh 29 Desember 2012).
Kleden, Ignas., Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (Jakarta: LP3ES, 1987).
Koento, Wibisono., Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983).
Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1981).
Mustansyir, Rizal dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Cetakan ketiga, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2003).
Mustansyir, Rizal, Refleksi Filosofis Atas Perkembangan Ilmu–Ilmu Humaniora, Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3, di unduh 30 Desember 2012.
Poespoprodjo, W., Interpretasi. (Bandung: Remadja Karya, 1987).
Rickman, H.P., Wilhelm Dilthey, Pioneer of The Human Studies. (London : Paul Elek, 1979) .
Sastraprateja, Filsafat Sebagai Paradigma Ilmu-Ilmu Humaniora, Makalah disajikan dalam Internship Dosen-dosen Filsafat Ilmu Pengetahuan se- Indonesia, 26 Juli sampai dengan 7 Agustus 1998, Kerjasama Ditjen Dikti Depdikbud dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 1998
Sumaryono, E., Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. (Yogyakarta : Kanisius. 1997).
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003)
Wisarja, I Ketut, Hermeneutika Sebagai Metode Ilmu Humaniora Perspektif Hermeneutika Wilhelm Dilthey, Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3, diunduh 30 Desember 2012.
Verhaak, C dan R Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan .(Jakarta: Gramedia, 1989).

3 pemikiran pada “METODE HERMENEUTIKA BAGI ILMU-ILMU HUMANIORA

  1. wajahnya mirip bunga zainal, tulisannya enak di baca🙂

    salam kenal, muhammad aprian romadhoni, ilmu sejarah unpad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s