PASANG SURUT KERJAAN DEMAK PADA ABAD KE-16 SEBAGAI KERAJAAN MARITIM

BAB I
PENDAHULUAN

Negara maritim merupakan negara yang memiliki visi atau pandangan hidup maritim untuk mengontrol dan memanfaatkan laut sebagai syarat mutlak mencapai kesejahteraan dan kejayaan. Menurut Mahan, terdapat enam syarat sebuah negara maritim, yaitu lokasi geografis, karakteristik tanah dan pantai, luas wilayah, jumlah penduduk, karakter penduduk serta pemerintahan. Negara maritim harus dapat mengendalikan pulau-pulau yang menjadi wilayah kekuasaannya. Untuk itu, negara maritim wajib memiliki armada laut yang tangguh, baik armada perang maupun armada dagang.
Terdapat pemahaman bahwa Indonesia adalah negara maritim. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa Nusantara pada zaman dahulu berorientasi pada laut. Sejarah telah mencatat bahwa negeri Nusantara yang diperankan kerajaan Sriwijaya, Singosari, Majapahit dan Demak dulu pernah jaya dengan mengandalkan kekuatan maritim. Dalam tulisan ini, terutama akan di bahas mengenai Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Selain menjadi pusat penyebaran agama, Kerajaan Demak juga menjadi pusat pelayaran dan perdagangan yang maju pada abad ke-16.

BAB II
PEMBAHASAN

Di Jawa terdapat kerajaan Majapahit (1293-1525) yang mempunyai ciri agraris dan juga maritim. Pada awalnya kerajaan Majapahit hanya meliputi sebagian besar Jawa Timur dan sebagian jawa tengah. Akan tetapi sejak tahun 1330an Majapahit mulai tampil sebagai kekuatan maritim dengan menakklukkan daerah-daerah lain di luar Jawa. Sejalan dengan mulai melemahnya kekuasaan Majapahit sejak akhir abad ke-15, para penguasa atau syahbandar di kota-kota pelabuhan sepanjang pantai utara Jawa secara berangsur-angsur melepaskan diri dari Majapahit dan menjadi penguasa-penguasa yang merdeka dan memeluk agama Islam.
Setelah raja Hayam Wuruk mangkat pada tahun 1389, kerajaan Majapahit secara berangsur-angsur mengalami kemunduran. Merupakan suatu kebetulan bahwa peristiwa itu bersamaan dengan kedatangan atau penyebaran Islam di jawa. Sebelumnya agama baru itu telah berkembang di Sumatera Utara pada tahun 1300an dan di Malaka pada tahun 1400an, dan selanjutnya secara lambat laun menyebar hampir ke seluruh kepulauan Indonesia. Hanya pulau Irian yang pada waktu itu boleh dikatakan belum tersentuh oleh agama Islam.
Negara Islam yang paling penting di wilayah pantai utara Jawa pada awal abad XVI adalah Demak. Pada masa itu Demak merupakan sebuah pelabuhan laut yang baik walaupun timbunan lumpur yang sangat banyak di pantai pada abad-abad berikutnya telah menjadikan letak Demak dewasa ini beberapa kilometer jauhnya dari laut. Asal usul negara ini sangat tidak jelas. Sepertinya Demak didirikan pada perempatan terakhir abad XV oleh seorang asing yang beragama Islam, yang kemungkinan besar orang Cina yang bernama Cek Ko-Po. Putranya adalah seorang yang oleh orang-orang Portugis di sebut dengan nama ‘Rodim’ tampaknya ia meninggal sekitar tahun 1504. Putra Rodim, atau mungkin adiknya adalah orang yang menegakkan hegemoni Demak di Jawa yang tidak bertahan lama. Dia dikenal dengan nama Trenggono, dan tradisi-tradisi Jawa yang kemudian menyebutkan bahwa dia bergelar Sultan walaupun hal ini mungkin bersifat anakronis. Trenggana sepertinya memerintah Demak dua kali, sekitar tahun 1505-18 dan sekitar 1521-46; kurun waktu antara dua masa pemerintahan tersebut diisi oleh iparnya, Raja Yunus dari Jepara, Trenggana mengatur pengluasan pengaruh Demak ke arah timur dan barat.
Sekitar tahun 1500 seorang bupati Majapahit bernama Raden Patah, yang berkedudukan di Demak dan memeluk Islam, dengan sengaja melepaskan diri sebagai bawahan atau vasal dari Majapahit yang sudah sangat lemah.m dengan bantuan daerah-daerah lainnya di Jawa Timur yang sebagian besar penduduknya sudah memeluk agama Islam seperti Jepara, tuban dan Gresik, ia mendirikan kerajaan Islam dengan Demak sebagai ibukotanya.
Sehubungan dengan tindakan Raden Patah tersebut, Brawijaya mengutus Adipati Tarung untuk memperingatkan Raden Patah akan kewajibannya kepada Majapahit. Namun demikian Adipati Tarung ternyata tidak menjalankan tugasnya dengan baik, ia kemudian bersekutu dengan orang-orang Islam untuk menyerang Majapahit. Tanpa perlawanan yang berarti Raden Patah dapat menggantikan kedudukan Brawijaya ayahnya.
Kerajaan Demak yang dianggap sebagai pengganti Majapahit semakin memperbesar wilayah kekuasaannya, khusus ke daerah-daerah pantai (kota-kota pelabuhan) utara pulau Jawa, bahkan sampai ke Sumatra. Putra Raden Patah bernama Pati Unus yang pada waktu itu menjabat sebagai bupati Jepara, sangat giat membantu usaha ayahnya, yaitu memperluas dan memperkuat kedudukan kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam. Pada tahun 1515 wilayah Demak sudah meliputi daerah pesisir utara pulau Jawa, yaitu dari Demak hingga Cirebon, bahkan sampai di Palembang. Sementara daerah-daerah di sebelah timur Demak akhirnya juga ditaklukkan dengan peperangan-peperangan yang terjadi antara tahun 1525-1546. Sebagai ibukota kerajaan, Demak sangat strategis dan menguntungkan baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada zaman tersebut diperkirakan letak wilayah Demak berada di tepi selat di antara pegunungan Muria dan Jawa yang dapat di layari. Dengan demikian kapal-kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk ke Rembang.
Disamping sebagai pusat penyiaran agama Islam, pada abad ke-16 Demak juga dikenal sebagai pusat perdagangan. Demak juga berhasil menjalin hubungan diplomasi dan niaga dengan daerah-daerah Islam di sebagian Asia Tenggara. Namun demikian pada masa itu muncullah kekuatan maritim asing yaitu Portugis yang berhasil merebut Malaka pada tahun 1511. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis itu menyebabkan jaringan perdagangan dari kerajaan-kerajaan maritim Islam yaitu Aceh, Banten, Ternate dan Demak bergeser lebih ke selatan. Bagi Demak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis berarti kehilangan pasar bagi barang-barang dagangannya khususnya beras dan rempah-rempah. Inilah yang dalam sejarah kerajaan Demak menimbulkan inisiatif yang heroik untuk menyerang ke Malaka dengan armada yang dipimpin Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor.
Portugis dan Spanyol melakukan tekanan atas dominasi Jawa dengan agresif membajak jalur perdagangan yang telah berlangsung ribuan tahun. Dua abad sebelumnya, Mongol mencoba melakukan pembajakan, namun berakhir dengan kehancuran Mongol. Portugis melakukan strategi pembajakan yang berbeda dengan Mongol. Bila Mongol langsung menyerang jantung pertahanan Jawa, Portugis menyerang wilayah-wilayah sstrategis yang di kuasai Jawa. Strategi Portugis berhasil mengubah rute perdagangan Jawa-Kalah-India-Oman-Suez menjadi Jawa-Kalah-India-Afrika-Eropa. Meskipun demikian, para raja penerus Dinasti Rajasa, seperti Demak dan Pajang, mampu melokalisasi agresivitas Portugis dan Spanyol sehingga hanya memperoleh sebagian kecil dari perdagangan dunia.
Pangeran Sabrang Lor (Pati Unus) menyerang Malaka pada 1512, satu tahun setelah Portugis menguasai Malaka, dan pada 1513. Sekalipun kalah Portugis harus menerima kedudukan yang mereka peroleh selama ini, tanpa mampu mengembangkan kekuasaannya.
Secara geografis, Demak memiliki letak yang sangat menguntungkan baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada waktu itu Kerajaan Demak merupakan kerajaan maritim yaitu sebuah kerajaan yang perekonomiannya lebih didasarkan atas sektor perdagangan dan pelayaran. Berdasarkan geo-morfologi bahwa pada abad XV kota Demak berada di tepi pantai dan memiliki pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negara. Menurut cerita babad dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, pengganti Raden Patah adalah Pangeran Sabrang Lor. Nama itu ternyata berasal dari daerah tempat tinggalnya di seberang utara, yaitu Jepara sebuah daerah yang pada waktu itu masih terpisah oleh sebuah selat dengan Demak. Sementera itu menurut Tome Pires penguasa kedua di Demak adalah Pate Rodim Sr. Dia mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal jung.
Kekuatan Demak terpenting adalah kota pelabuhan Jepara, yang merupakan kekuatan laut terbesar di laut Jawa dan sekaligus juga pemasok beras yang utama ke Malaka. Pada masa Trenggana, dia berusaha memimpin suatu koalisi Islam yang mungkin menghancurkan kerajaan Hindu-Budha utama terakhir yang berpusat di Kediri. Ia memang tidak merebut suatu kerajaan Jawa yang mapan, tetapi sekembali di pusat kekuasaannya di Demak Sultan Trenggana terus-menerus menyerang sejumlah musuh yang masih memeluk agama Hindu. Gelar Sultan yang menurut tradisi disandangnya sejak tahun 1524 dengan hak (otorisasi) yang di bawa Sunan Gunung Jati dari Mekkah merupakan indikasi bahwa Demak adalah sebuah kerajaan berbentuk baru di Jawa. Gambaran itu menunjukkan bahwa Demak benar-benar merupakan kekuatan yang signifikan di Jawa pada abad ke-16.
Menurut kesaksian Tome Pires, pelabuhan Demak banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang Persia, Arab, Gujarat, Melayu, dan sebagainya. Dengan kegiatan dagangnya mereka menjadi kelompok sosial yang kaya. Mereka membangun masjid dan membangun solidaritas keislaman serta melakukan perkawinan campur dengan masyarakat setempat. Sebagai bandar utama di Nusantara, jangkauan jaringan pelayaran Demak mencakup hampir seluruh wilayah Nusantara dari Maluku hingga Malaka. Bahkan dengan datangnya pedagang asing sebagaimana yang disebutkan di atas berarti jaringan perdagangan Demak juga telah mencapai kawasan di sebelah barat Selat Malaka hingga dunia Arab.
Galangan kapal di jawa juga terkenal di Asia Tenggara pada abad ke-16, seperti daerah Lasem, yang terletak antara pelabuhan-pelabuhan terkenal, Tuban dan Jepara yang dekat dengan hutan jati di Remabang. Kondisi yang menguntungkan tersebut adalah faktor penting bagi kemajuan Demak, dengan demikian, Demak mempunyai kapal-kapal untuk mengangkut hasil pertanian daerah pedalamannya (terutama beras) dan menjualnya di lain bagian Nusantara, dengan adanya industri kapal tersebut memungkinkan Demak mengerahkan sejumlah kapal untuk ekspedisi lintas laut, baik untuk maksud damai maupun untuk tujuan perang. Selain untuk digunakan sendiri, kapal-kapal tersebut merupakan bahan-bahan ekspor penting. Sebelum kekuatan laut Demak jatuh (dalam perang melawan portugis di Malaka), Demak mempunyai 40 buah jung untuk membawa bahan makanan ke Malaka. Diperkirakan puluhan kapal digunakan Adipati Unus untuk menggempur Malaka berasal dari galangan kapal Lasem.
Pada masa Kasultanan Bintoro Demak, Kasultanan memiliki beberapa peranan diantaranya adalah sebagai pusat penyiaran agama Islam, sebagai pusat pemerintahan, sebagai pusat kegiatan politik dan militer, serta sebagai kerajaan maritim dan pusat perdagangan. Peranan sebagai kerajaan maritim dan pusat perdagangan salah satunya dapat diketahui dengan kehadiran Kyai Palembang yang ditunjuk sebagai Syah Bandar di Bandar laut Muara Bungo berhasil mengembangkan bandar laut menjadi besar sehingga Kasultanan Bintoro Demak menjadi negara maritim sekaligus pusat perdagangan. Kerjasama yang dilakukan dalam perdagangan juga sampai ke daerah Malaka.
Pada abad ke-16 Demak diduga menjadi pusat penyimpanan beras hasil pertanian dari daerah-daerah sepanjang Selat Muryo. Perhubungan Demak dengan daerah pedalaman Jawa Tengah adalah melalui Kali Serang yang muaranya terletak di antara Demak dan Jepara. Sampai hampir akhir abad ke-18 Kali Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal sampai pedalaman. Mata air Kali Serang terletak di Gunung Merbabu dan di Pegunungan Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan tersebut terdapat bentang alam Pengging.
Sejalan dengan perpindahan pusat kekuasaan dari kota Demak ke Pajang dan proses perubahan ekologi di ‘Selat Muria’ yang menempatkan Demak tidak lagi sebagai kota pelabuhan, maka kehidupan maritim Demak menjadi mundur. Fungsi Demak digantikan oleh Jepara hingga VOC mengalihkan kegiatan dagang dari Jepara ke Semarang pada abad XVII. Akibat dari situasi ini, maka pelabuhan laut kota Demak menjadi kurang berarti pada akhir abad ke-16. Namun sebgai produsen beras dan hasil pertanian lain daerah Demak masih lama mempunyai kedudukan penting dalam perekonomian kerajaan Mataram

BAB III
PENUTUP

Kerajaan Demak merupakan salah satu diantara kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. Demak pernah menjadi sebuah kerjaan maritim yang mengandalkan sektor laut sebagai faktor utama dalam kemajuan serta keberlangsungan eksistensi kerajaan. Melalui laut Demak melakukan perdagangan serta pelayaran, tak dapat dipungkiri secara geografis, Demak memiliki letak yang sangat menguntungkan baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada waktu itu Kerajaan Demak merupakan kerajaan maritim yaitu sebuah kerajaan yang perekonomiannya lebih didasarkan atas sektor perdagangan dan pelayaran. Berdasarkan geo-morfologi bahwa pada abad XV kota Demak berada di tepi pantai dan memiliki pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negara.
Bukti-bukti mengenai armada laut sebagai pertahanan kerajaan Demak serta perlawanan yang dilakukan oleh Pangerann Sabrang Lor untuk merebut Malaka dari Portugis menjadi semakin menguatkan kita bahwa Demak pernah menjadi kerajaan maritim yang tangguh. Namun akibat sedimentasi Selat Muria, jalur perairan yang melewati Demak menjadi tertutup dan yang tersisa hanyalah dartan dan menempatkan Demak tidak lagi sebagai kota pelabuhan, sehingga kehidupan maritim Demak menjadi mundur.
Meskipun kejayaan maritim Kerajaan Demak telah berakhir, tak sepantasnya sebagai orang Indonesia khususnya warga Demak, melupakan sejarah kerajaan mereka sendiri. Dengan berkaca dari sejarah, sepatutnya kita dapat melanjutkan kejayaan tersebut melalui prestasi-prestasi warga di bidang kemaritiman. Meski jalur pelayaran dan perdagangan telah hilang, sampai saat ini Demak masih memiliki beberapa wilayah pesisir yang dihuni oleh masyarakat pantai yang dapat dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Burger, D. H., Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia I (Jakarta : Pradnjaparamita).
Djoko N, Irwan., Majapahit Perdaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia (Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti 2010)
Djoned P, Marwati dan Nugroho Notosusanto., Sejarah Nasional Indonesia jilid III edisi pemuthakiran (Jakarta: Balai Pustaka 2008).
Djuliati Suroyo, A. M. dkk Sejarah Maritim Indonesia 1: Menulusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad-17 (Semarang: Jeda 2007)
Khafid K, Muhammad., Sejarah Demak : Matahari terbit di Glagahwangi, (Demak: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak, 2008).
Ricklefs, M. C., Sejarah Indonesia Modern, cet.ke-8 terjemahan Dharmono Hardjowidjono (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005).
S. K. Wahyono, Indonesia Negara Maritim (Jakarta: Teraju, 2009)
Supriyono, Agustinus., Buruh Pelabuahan Semarang: Pemogokan-pemogokan pada zaman kolonial Belanda, revolusi, dan republik 1900-1965 (Desertasi tahun 2007).

2 pemikiran pada “PASANG SURUT KERJAAN DEMAK PADA ABAD KE-16 SEBAGAI KERAJAAN MARITIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s