UNSUR KEBUDAYAAN UNIVERSAL (RELIGI) DALAM KEBUDAYAAN INDIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yaitu kebudayaan Eropa (Belanda) dan kebudyaan Timur (Jawa) semakin akrab. Akibat ppertemuan kebudayaan tersebut, kebudayaan bangsa pribumi (Jawa) diperkaya dengan kebudayaan Barat. Semakin lama pengaruh tersebut makin besar dan mempengaruhi berbagi bidang dan unsur kebudayaan. Tujuh unsur universal kebudayaan (seven culrural universals) yang dimiliki suku Jawa sepenuhnya terpengaruhi oleh kebudayaan Barat.

Dalam makalah ini akan disajikan mengenai kebudayaan Indis secara umum dan salah satu unsur kebudayaan universal dalam kebudayaan Indis yaitu religi atau sistem kepercayaan secara khusus.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kebudayaan Indis

Sejak awal kehadiran bangsa Belanda, telah terjadi kontak budaya yang menghasilkan perpaduan budaya. Kebudayaan campuran yang didukung oleh segolongan masyarakat Hindia Belanda disebut “Kebudayaan Indis”. Percampuran budaya tersebut meliputi berbagai unsur kebudayaan.

Peradaban Belanda kedudukannya lebih dominan dibandingkan dengan budaya pribumi pada awal kedatangannya. Namun lambat laun setelah terjadi pembaruan, peradaban pribumi mulai tinggi. Peran suku Jawa dalam proses pecampuran ini sangat aktif sehingga tidak terjadi hilangnya kebudayaan asli (Jawa). Peran kepribadian bangsa atau local genius Jawa ikut menentukan dalam memberi warana Kebudayaan Indis. Unsur-unsur kebudayaan Belanda itu mula-mula dibawa oleh para pedagang dan pejabat VOC serta rohaniawan Protestan dan Katolik.

Keadaan alam tropis Pulau Jawa menentukan dalam mewujudkan hasil karya budaya. Wujud dan isi kebudayaan yang terjadi dalam proses akulturai setidaknya terbagi dalam tiga bentuk, yaitu

  • Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilainorma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan dapat pula disebut “tata kelakuan”

  • Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Sering disebut sistem sosial yang berwujud “kelakuan”

  • Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat yang disebut material culture atau “hasil karya kelakuan”.

Ketiga wujud kebudayaan tersebut sangat erat kaitannya. ‘Isi’ kebudayaan terdiri dari tujuh unsur universal kebudayaan. Seperti halnya kebudayaan Belanda yang berakulturasi dengan kebudayaan Jawa, kebudayaan pendatang tersebut juga terdiri dari tujuh unsur budaya yaitu bahasa, peralatan dan perlengkapan hisup, mata pencaharian hidup dan ekonomi, sistem kemasyarakatan, kesenian, ilmu pengetahuan serta religi. Unsur tersebut mencakup semua dalam kebudayaan Indis yang merupakan pencerminan akulturasi kebudayaan Balanda dan Indonesia yang merambah dalam berbagai aspek kehidupan. Pada akhirnya akulturasi kedua kebudayaan tersebut mewarnai gaya hidup segolongan masyarakat di Hindia Belanda.

Berikut akan dijelaskan mengenai contoh dari salah satu unsur-unsur tersebut yakni ‘Religi‘.

B. Religi Dalam Kebudayaan Indis

Enkulturasi adalah suatu proses pembentukan budaya dari dua bentuk kelompok budaya yang berbeda sampai munculnya pranata yang mantap. Dalam pembahasan kajian teologi, enkulturasi diartikan sebagai rancang bangun teologi  lokal. Proses enkulturasi tidak hanya didukung oleh keseluruhan penyesuaian diri dalam kehidupan sosial, tetapi juga didukung oleh pengalaman-pengalaman sosial seperti bentuk ucapan atau bahasa, tingkah laku, lambang dan simbol-simbol, serta sisyem kepercayaan.

Sebagai suatu proses enkulturasi dalam perkembangannya berjalan melalui tiga tahapan gerakan prosesual. Tahap pertama, proses enkulturasi di tandai oleh adanya pengenalan sosial, penyesuaian adat, serta terjadinya relasi atau hubungan dalam interaksi sosial budaya. Tahap kedua, proses enkulturasi ditandai dengan adanya  koeksistensi dan pluriformitas terhadap lingkungan sekitar. Tahap ini enkulturasi  kepribadian dasar sebagai objek legitimasi. Tahap tiga, sebagai tahap akhir, proses enkulturasi diformulasikan dalam bentuk sinkretisme kebudayaan, kesenian, agama.

Kegagalan enkulturasi terjadi apabila dalam prosesnya berkembang dengan sistem pemaksaan, tidak luwes dan tidak beres, ataupun tidak lancar. Bentuk-bentuk pemaksaan dan ketidakluwesan serta ketidakbebasan akan berdampak munculnya unsur-unsur pemaksaan kepentingan tertentu. Unsur-unsur pemaksaan bila dilakukan secara terus menerus pada akhirnya muncul berbagai tindak kekerasan. Proses enkulturasi banyak ditentukan oleh sususan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dalam kajian teologis, enkulturasi religi diartikan sebagai rancang bangun teologi lokal yang disebut inkulturasi.

Proses penyebaran kepercayaan itu dilakukan dengan berbagai cara, seperti mendirikan sarana dan prasarana, memberikan bantuan sosial, melakukan Sinkretisme dan dengan kebudayaan setempat. Sinkretisme kebudayaan dan agama ini kemudian diimplementasikan dengan istlah lokalisasi. Sinkretisme sebagai bentuk perpaduan dua unsur budaya dan agama. Sinkretisme terbagi dalam tiga bentuk :

  1. Sinkretisme agama Kristen dengan agama kepercayaan lokal
  2. Sinkretisme percampuran unsur-unsur Kristen dengan unsur-unsur bukan Kristen
  3. Sinkretisme sistem keagamaan yang bersifat selektif dalam memasukkan unsur Kristen.

Contoh masalah percampuran dua unsur budaya, khususnya seni dan agama, misalnya seperti yang terjadi di Ganjuran, Yogyakarta. Gereja Ganjuran digunakan sebagai contoh karena memunculkan bentuk-bentuk sinkretisme Katolik (barat) dan budaya Jawa. Tokoh yang bernama Dr.  Joseph Schmutzer memegang peranan penting dalam usaha tersebut. Philip van Akheren misalnya, menyebutkan bahwa keberhasilan sinkretisme mengakibatkan Gereja Kristen di Jawa dijadikan “ajang” kebudayaan Jawa yang hendak mengadakan sosialisasi budaya dan agama. Gereja mempertahankan budaya lokal Jawa, antara lain gamelan untuk mengiringi upacara-upacara keagamaan, kidung-kidung Jawa, figur-figur raja Jawa dalam pewayangan dalam berbagai atributnya yang dipadukan dengan figur-figur keagamaan Kristiani sebagai penggambaran visual tokoh suci agama Nasrani.

Realitas budaya dan agama yang berinkulturasi menurut Joseph Schmutzer yaitu melihat realitas budaya serta agama yang dilakukan oleh para penyebar agama sebelumnya. Penyebar agama Hindu dan Budha misalnya, dinilai oleh Schmutzer telah mampu melakukan pengkaderan agama serta mampu meninggalkan sisa keagungan kebudayaan yang diwujudkan dalam bentuk bangunan tempat suci dan candi-candi. Kuatnya pengaruh ajaran Hindu dan Budha yang diwariskan secara turun-temurun orang Jawa, membuktikan tingkat keberhasilan sosialisasi agama Hindu dan Budha. Sejalan dengan kepentingan misi agama Katolik, buku itu menguraikan dan memberi contoh bentuk-bentuk enkulturasi yang muncul di Desa Ganjuran, Yogyakarta.

Gereja Hati Kudus di Ganjuran Yogyakarta mulai dibangun pada 14 April 1924. Gereja bergaya  arsitek Jawa ini (berdenah axial bouw) dibangun dalam satu kompleks dengan rumahsakit, asrama putri, dan sebuah bangunan berbentuk candi kecil tetapi dengan lambang-lambang agama Katolik (disebut Monumen Hati Kudus). Di dalam bangunan gereja ini terdapat kelengkapan gereja yang semuanya berhiaskan ragam Jawa.

Para penguasa dan masyarakat Jawa malindungi dan mengembangkan tradisi kesenian yang sudah dikenalnya sejak kuno.  Dengan perlindungan semacam itu, selain untuk melestarikan juga dapat memberikan inspirasi yang bersumber dari masa klasik, yang akhirnya menimbulkan seni Jawa Baru. Upaya-upaya mengkaji dan menggunakan unsur budaya lama tersebut dapat menimbulkan kehidupan baru pada seni Jawa yang lambat laun tumbuh menjadi modern, khususnya citra dalam gaya (stijlgvoel). Hal ini umum dilakukan untuk mendapatkan bentuk lama dalam penilaian baru agar didapatkan keharmonisan. Kasus-kasus semacam ini dapat dimanfaatkan untuk menampung idealisme penciptaan, khususnya dalam menggunakan peninggalan-peninggalan seni kuno sebagai acuan. Begitulah dasar pikiran J. Schmutzer untuk memanfaatkan anasir-anasir budaya Jawa lama dalam upaya mengembangkan agama Katolik.

Di Gereja Katolik Ganjuran Yogyakarta, sinkritisme kebudayaan dimulai dengan dipakainya gamelan dan bidang kesenian lainnya dalam kegiatan ritual gereja berturut-turut disajikan berbagai bidang seni Jawa yang menurut Schmutzer dapta digunakan sebagai media menjelaskan ajaran Katholik dan diterapkan dalam enkulturasi, antara lain menggunakan ilham (inspirasi) dari wayang kulit purwa.

Wayang kulit purwa digunakan dalam menjelaskan kontak Trinitas ajaran Katolik, yaitu wayang dapat berarti ayang-ayang atau bayang-bayang, yaitu bayangan nenek moyang, disini diartikan sebagai Trinitas. R.M. Poerwodiwiryo melukiskan keagungan Sang Tri-Mulyo Mahasuci yang dipinjamnya dari wayang purw. Masing-masing tokoh pewayangan tersebut duduk pada setangkai bunga lotus, yang pada seni Jawa Hindu dipergunakan sebagai motif ragam untuk singgasana dan lapik (pijakan kaki) atau tempat berdiri Sang Budha Gautama atau Dewa-dewa Hindu. Ketiga bunga lotus dihubungkan oleh untaian tali bunga, yang menyilang pada sebuah lingkaran dengan sinar mengelilinginya menggambarkan ketiga tokoh tersebut muncul dari lingkaran bersinar yang merupakan simbol Yang Mahasempurna. Tangan ketiga tokoh tersebut menyentuh lambang lingkaran yang bersinar. Sang Allah Putra pada tangannya memegang lingkaran kecil dengan simbol salib.

Setelah ada lukisan Trinitas beberapa waktu berikutnya dibuatlah patung dari kayu jati yang mengambil ilham tokoh patung Diyani Budha Maetreya. Tokoh tertinggi agama Nasrani itu duduk dari kiri : Sang Allah Bapa, Sang Allah Putradan Sang Roh Suci, yang masing-masing menggunakan pakaian kebesaran raja-raja dalam pewayangan Jawa.

Terdapat juga pemahatan patung yang terinspirasi dari relief Candi Borobudur yaitu pemahatan adegan Gusti Yesus Kepatrapan Ukum Pati (Kristus Dipidana Hukum Mati) dan Gusti Yesus Manggul Pamenthangan (Sang Kristus Memikul Kayu Salib). Pada adegan Kristus Dipidana Hukum Mati mengambil inspirasi relief Candi Borobudur yang menggambarkan sang Budha Gautama duduk bersila diatas Singgasana, yang digantikan oleh tokoh Pilatus. Kristus digambarkan mengenakan sari atau jubah, dua orang prajurit dipahat dengan bentuk gaya klasik. Sedangkan pada pahatan adegan Sang Kristus Memikul Kayu Salib, karya Peter M. Reksoatmodjo, mengingatkan pada ceruk (nis) relief Candi Borobusur yang melukiskan cerita Budha Carita. Ceruk (nis) berbentuk lengkung berhiskan ragam hias tumbuh-tumbuhan yang distilir dari kalamakara.

 

Musik Gamelan dan Lagu-lagu untuk mengiringi Upacara Gerejani (Liturgi)

Instrumen musik iringan upacara agama (liturgi), atas jasa Broeder Clementius dan Ivo dari Yogyakarta, dibuat lagu-lagu untuk iringan lagu kegerejaan dengan menggunakan gamelan Jawa. Lagu-lagu gerejani Jawa untuk pertama kali dengan secara tepat diiringi alat musik pukul, yaitu gamelan. Dengan dipelopori oleh Walter Spies dan seorang dirigen Jawa dari kelompok orkes milik Sri Paku Alam, kemudian disempurnakan dan dapat dilakukan dengan alat gamelan untuk mengiringi lagu-lagu gerejani ini. Harapannya seni suara ini akan lebih baik, dengan demikian orang Jawa sendiri dengan alat musiknya dapat menciptakan lagu-lagu keagamaan Barat (Eropa). Berbagai contoh yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa budaya tradisional memainkan peran yang penting dalam inkulturasi religi Eropa dan Jawa.

C. Komunitas-komunitas Krsiten

Komunitas-komunitas kristen jawa termasuk lambat terbentuknya. Misalnya, dampak pertama agama kristen di Jepang sebelum terjadinya penumpasan di simbara (1638). Dibandingkan dengan islam yang ada dimana-mana komunitas itu juga merupakan minoritas. Secara profesional jumlah mereka tak pernah sebesar masyarakat kristen Filipina atau Vietnam. Umat kristen tertua di Indonesia, terdapat ditempat-tempat orang-orang portugis mendirikan gereja pertama mereka yaitu di kepulauan Maluku dan di pulau-pulau Sunda kecil.

Di Jawa, lama sekali hanya di batavia terdapat pendeta, tahun 1753 terdapat seorang di Semarang dan seorang lagi di Surabaya sejak tahun 1785. Pada abad ke -19 mulai datang kalangan protestan dan misionaris katholik sampai saat ini dilarang bermukim. Kaum misionaris Katolik terjadi persaingan diantara kedua gereja yang pada dasawarsa pertama abad ke-20 berhasil mengkristenkan beberapa daerah baru dimana Islam belum mapan : Tanah Toraja, bagian Utara Tanah Batak dan bagian Tengah Kalimantan. Pada tahun 1849 orang-orang pribumi Kristen memberikan kesamaan kedudukan hukum dengan orang Eropa, penguasa Belanda mencabut kembali keputusan itu pada tahun 1853. Jadi harapan untuk dapat berasimilasi melalui agama hanya berlangsung selama empat tahun, pada waktu usaha misioner sungguh-sungguh belum dimulai.

Diantara orang-orang Eropa memilih menetap di Indonesia dan berwarga negara Indonesia, terdapat sejumlah besar pendeta dan pastur. Sering melalui perantaraan merekalah, beberapa pengetahuan mengenai teknik dan konsep modernisasi dapat masuk hingga jauh ke plosok daerah terpencil.

Agama Kristen berkembang di Jawa dengan cara yang cukup banyak berbeda. Komunitas Kristen pertama yang terbentuk diluar komunitas perkotaan di Belanda terdapat di derah kecil yang bernama Depok (terletak diantara Batavia dan Bogor). Setelah kematian Chastelin daerah itu diwariskan kepada budak-budak yang telah menganut agama Kristen, terdiri dari 200 orang asal Bali, Sulawesi dan Timor. Pada abad ke-19 terbentuk lagi beberapa komunitas pertanian, diatas sebidang tanah milik, diseputar seorang pengusaha perkebunan bagi para pekerjanya. Komunitas Ngoro (dikelokan Sungai Brantas, dekat Pare) yang merupakan komunitas Kristen pertama di Jawa Timur (1827) didirikan oleh seorang tokoh yang luar biasa yaitu Coenraad Laurens Coolen (1775-1873) ayahnya berasal dari keluarga Belanda yang telah berimigrasi ke Rusia sedangkan ibunya keturunan Pangeran Kajoran, keluarga bangsawan Mataram.

Patut dicatat bahwa skema “tanah milik pangeran” dengan semacam masyarakat Uthopia dipinggir hutan itu sesuai dengan aspirasi yang terdapat didalam mentalitas Jawa. Skema itu tampak diterapkan oleh orang-orang Jawa pertama yang memeluk agama Kristen, di Mojowarno, dekat Ngoro, tempat Paulus Tosari, asal Madura pada tahun 1844 dengan spontan mendirikan komunitas kecil yang akan menjadi sebuah pusat yang akan menyebar ke selatan Malang hingga ke daerah Jember. Pentingnya pembukaan hutan sebagai dasar pembentukan masyarakat itu didasari oleh para misionaris.

Disamping Paulus Tosari dapat disebut berapa pemimpin spiritual lain yang mempunyai peran penting pada masa awal terbentukya petani Kristen : Pak Dasimah dari wiyung (dekat Surabaya). Sejumlah komunitas lain membentuk komunitas baru di karangsono, purworejo.

Beberapa contoh di atas menggambarkan perkembangan agama protestan. Sejalan dengan itu patut pula diungkapkan bahwa perkembangan katolik yang terjadi lebih cepat khusunya di desa-desa Jawa tengah disekitar muntilan sejak tahun 1896.

Sepanjang abad ke-19 dan juga awal abad ke-20 agama kristen dipungut oleh beberapa penganut kejawen dan merangsang gerakan baru. Pembukaan hutan dan opemukiman didaerah pedalaman. Pengaruh dari petani-petani yang menjadi miskin, terpaksa mengungsi dan siap menerima ideologi baru yang menyelamatkan. Misalnya kasus kristenisasi yang bercampur baur dengan unsur-unsur budaya luar. Coolen yang melakukan bigami dan karena itu dikucilkan dari komunitas kristen.

 BAB III

KESIMPULAN

 

            Telah diketahui sebelumnya, meskipun pada awalnya peradaban Belanda kedudukannya lebih tinggi dibanding dengan budaya pribumi, namun lambat laun setelah terjadi pembauran, peradaban pribumi mulai tinggi. Orang pribumi (Jawa) sangat pandai dalam mempertahankan kebudayaan aslinya oleh sebab itu tidak banyak terjadi penghapusan kebudayaan asli dengan adanya kebudayaan pendatanng seperti kebudayaan Barat. Kedua kebudayaan tersebut akhirnya berjalan seiring dan saling melengkapi.

Agama Kristen menjadi salah satu kebudayaan baru yang dibawa oleh pendatang. Dengan kepandaian masyarakat Jawa, meskipun agama tersebut mengubah sistem kepercayaan yang sebelumnya namun unsur kebudayaan Jawa masih dipakai dalam agama baru tersebut. Misalnya yang terjadi di Gereja Katolik Ganjuran Yogyakarta yang memunculkan bentuk-bentuk sinkretisme Katolik (barat) dan budaya Jawa. Gereja mempertahankan budaya lokal Jawa, antara lain gamelan untuk mengiringi upacara-upacara keagamaan, kidung-kidung Jawa, figur-figur raja Jawa dalam pewayangan dalam berbagai atributnya yang dipadukan dengan figur-figur keagamaan Kristiani sebagai penggambaran visual tokoh suci agama Nasrani.). Di dalam bangunan gereja ini terdapat kelengkapan gereja yang semuanya berhiaskan ragam Jawa.

Dan sekilas tentang komunitas Kristen yang terdapat di Jawa, mereka yang memimpin komunitas tersebut sangat berpengaruh terhadp perkembangan penyebaran agama Kristen. Semakin banyaknya komunitas Kristen yang terbentuk membuktikan, besarnya respon yang diberikan masyarakat Jawa pada waktu itu.

            Hasil budaya dari masa Hindia Belanda oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Akan tetapi, sesungguhnya peninggalan budaya yang positif pun cukup banyak, antara lain : usaha mencerdaskan bangsa, disiplin, menghargai waktu, menyenangi kebersihan, dan sebagainya. Budaya Indis yang bersifat positif patut diteruskan dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

 

Soekiman Djoko.2000, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII- Medio XX),Yayasan Benteng Budaya, Yogyakarta.

Lombard Denys.2008, NUSA JAWA : SILANG BUDAYA KAJIAN SEJARAH TERPADU bagian : I Batas-batas Pembaratan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/06/budaya-indis-jawa-bukan-belanda-bukan/ ,  10 November 2011.

http://yesustaksendirian.blogspot.com/2010_02_05_archive.html,  10 November 2011.

2 pemikiran pada “UNSUR KEBUDAYAAN UNIVERSAL (RELIGI) DALAM KEBUDAYAAN INDIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s