Sekilas Tentang Buku

1.      Informasi Buku

Judul Buku                  : The Java Sea Network : Patterns in the Development of Interregional Shipping and Trade in Process of National Economic Integration in Indonesia, 1870s-1970s

Pengarang                   : Singgih Tri Sulistiyono

Penerbit                       : Universiteit Leiden

Tahun Terbit                : 2003

2.      Tentang Penulis

Singgih Tri Sulistiyono lahir pada tanggal 16 Juli 1964 di sebuah desa di tengah hutan jati di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Beliau menyelesaikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama tahun 1979 di desanya. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Keguruan di Purwodadi, Jawa Tengah dan selesai pada tahun 1982.

Merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang guru, beliau melanjutkan pendidikannya di Jurusa Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro Semarang. Setelah menyelesaikan skripsinya yang berjudul : Pemberontakan Angkatan Umat Islam (AUI) di Kebumen 1950, beliau mendapatkan gelar sarjana tahun 1987 dengan  predikat: sangat memuaskan. Pada tahun 1991 beliau diterima sebagai mahasiswa pasca sarjana, Universitas Gajah Mada. Beliau lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 1994 dengan tesis yang berjudul : Perkembangan Pelabuhan Cirebon dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Kota Cirebon 1859-1930, dibawah bimbingan Prof. Dr. Djoko Suryo.

Selama tahun 1987-1989, beliau mengajar di Jurusan Sejarah IKIP Veteran Semarang. Sejak 1991, beliau telah mengajar di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro Semarang. Pada tahun 2000, beliau ditunjuk sebagai ketua dari Lembaga Penelitian Pusat Kajian Sejarah Maritim dan Budaya Asia Tenggara, Universitas Diponegoro. Sejak tahun 1997 beliau telah menyelesaikan penelitian untuk proyek disertasinya dengan Laut Jawa sebagai kerangkanya, sebuah kerjasama yang berani antara Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Amsterdam dan Universitas Leiden.

3.      Ringkasan Isi Buku

Buku ini merupakan sebuah disertasi dan hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian sejarah yang bertujuan untuk melacak pasang surut perkembangan pelayaran dan perdagangan antardaerah dalam proses integrasi ekonomi Indonesia dari tahun 1870-an sampai tahun 1970an yang terjadi di Jaringan Laut Jawa.  Terdapat tujuh bab dalam buku ini, yaitu Bab I  (Pendahuluan); Bab II (Laut Jawa dan Wilayah Laut Jawa : Gambaran Umum); Bab III (Kebijakan Negara dan Perkembangan Dunia Maritim Indonesia tahun 1816-1930an); Bab IV (Jaringan Laut Jawa : Arah Pelayaran dan Perdagangan dan Pola Integrasi Ekonomi dalam Periode Kolonial, 1870-1942); Bab V (Kemunduran Pelayaran Antardaerah dan Ancaman Disintegrasi, 1942-1965); Bab VI (Pembukaan Kembali Jaringan Laut Jawa dan Masalah-masalah Pelayaran dan Perdagangan Antardaerah Dalam Perubahan Jaringan Pelayaran Global, 1965-1970an); Bab VII (Kesimpulan)

BAB I (Pendahuluan)berisi tentang metodologi keilmuan yang digunakan oleh penulis, yaitu metodologi ilmu sejarah. Dimana dalam bab ini dipaparkan mengenai: 1. Latar belakang dan permasalahan, 2. Penentuan unit kajian yang meliputi temporal (1870-1970), rentang tahun tersebut dipilih karena berhubungan dengan fakta bahwa dalam periode ini menurut kesaksian beberapa orang terjadi perubahan yang sangat penting. Perubahan ini erat kaitannya dengan perkembangan kebijakan liberal Negri Belanda di tanah jajahan, pendirian infrastruktur baru, reformasi fisik dan administratif, digantikannya perahu layar oleh kapal uap (pergantian sistem transportasi), munculnya jaringan yang luas dan pelaku-pelaku baru dalam perdagangan, implementasi manajemen pelabuhan baru yang akhirnya memunculkan pola kedaerahan dalam pelayaran dan perdagangan, perubahan politik setelah dekolonisasi dan perumusan strategi baru perkembangan ekonomi pada awal pemerintahan yang baru. Unit kajian spasial yaitu jaringan Laut Jawa. Jaringan laut jawa telah menjadi katalisator hubungan-hubungan ekonomi diantara pelabuhan-pelabuhan utama di kepulauan Indonesia yang merupakan pusat-pusat pertumbuhan bagi pelabuhan-pelabuhan yang lebih kecil disekitarnya. Ketika abad modernisasi dunia pelayaran Indonesia (1870an-1970an) Jaringan Laut Jawa berfungsi sebagai pondasi bagi pencapaian integrasi ekonomi dan politik sejak zaman kolonial Bleanda hingga masa awal pemerintahan Orde Baru. 3. Pendekatan, dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa pendekatan untuk memahami permasalahan dari dimensi lain. 4. Kerangka teori dan konseptual terdiri dari konsep tentang integrasi ekonomi nasional di Indonesia; konsep tentang sifat dasar integrasi ekonomi nasional; konsep tentang pola negara dalam mengatur jaringan perdagangan; konsep mengenai jaringan perdagangan, perdagangan dan integrasi ekonomi. 5. Sumber-sumber yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian. Dan tak lupa dalam pendahuluan penulis memaparkan beberapa pokok bahasan tiap bab.

Dari pembahasan bab dua dapat diketahui bahwa faktor-faktor alamiah khususnya geografi, geologi, kondisi pantai, cuaca, dan muson menjadi unsur penting dalam perkembangan ekonomi di daerah-daerah sekitar Laut Jawa. Secara geografis, kawasan Laut Jawa merupakan inti dari wilayah Indonesia sehingga memungkinkan menjadi pusat perkembangan ekonomi di Kepulauan Indonesia. Kawasan Laut Jawa merupakan kawasan yang subur yang menghasilkan tanaman tropis yang laku di pasar internasional. Penduduk yang padat di kawasan ini, mengakibatkan semakin tingginya permintaan terhadap barang-barang impor, sehingga tidak mengherankan jika akhirnya banyak pelabuhan-pelabuhan di kawasan ini menjadi ramai. Selain itu faktor alamiah seperti angin muson yang secara berkala bertiup dari kepulauan Indonesia memungkinkan berkembangnya pelayaran pelayaran dan perdagangan, terutama ketika kapal layar masih menjadi alat transportasi utama.

Adanya kekuatan Belanda yang terus-menerus penaklukkan, menjadikan peranan kelompok-kelompok lokal terpinggirkan. Padahal selama berabad-abad jaringan Laut Jawa tersebut dibangun oleh masyarakat lokal tersebut. Perubahan dilakukan oleh pihak Belanda dalam pengaturan Jaringan Laut Jawa yang sesuai dengan kepentingan dan tuntutan kapitalisme global. Perubahan peraturan tersebut secara tidak langsung juga akan merubah jaringan-jaringan di tingkat lokal.

Pada bab ketiga, dibahas mengenai beberapa kebijakan dalam pengaturan Jaringan Laut Jawa. Untuk memperkuat kedudukannya di tanah jajahan, pemerintah kolonial Belanda melakukan pengaturan kembali terhadap jaringan komersial yang telah ada baik di darat maupun di laut. Ketika kapitalisme modern berkembang pesat telah Jaringan Laut Jawa pada abad ke-19 telah diubah dan disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan Belanda dan kapitalisme global. Terdapat dua hal penting dalam revitalisasi Jaringan Laut Jawa pada akhir abad ke-19 yaitu orientasi keluar dan orientasi ke dalam. Pada abad ke-19 dapat diketahui bahwa Belanda melakukan banyak usaha untuk membendung pengaruh Inggris di kawasan koloninya. Dengan menggunakan taktik canggih dan kekerasan dan brutalitas militer, imprealisme Belanda dapat meletakkan fondasi yang kuat di negara kolonial Indonesia. Dominasi kolonial Belanda si perairan Indonesia menekan perkembangan sektor pelayaran prahu bumi putera, mereka dipaksa untuk menjadi armada suplemen bagi KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij). Adanya revitalisasi terhadap Jaringan Laut Jawa, juga berimplikasi terhadap semakin terbukanya koloni Indonesia bagi ekspansi kapitalisme dunia, sehingga rentan terhadap krisis dan konjungtur kapitalisme global seperti dalam kasus Perang Dunia yang mengakibatkan depresi ekonomi tahun 1930-an yang berpengaruh besar terhadap kehidupan rakyat koloni di Indonesia.

Pada tahun 1942 muncul persaingan antara kapitalisme dan fasisme di Indonesia di berbagai daerah di jajahan. Kolonialisme barat berhasil dikalahkan oleh bala tentara Jepang. Dalam periode pendudukan Jepang Jaringan Laut Jawa mengalami kemunduran. Taktik bumi hangus yang dilakukan oleh tentara Belanda, telah menghilangkan instalasi-instalasi ekonomi penting dengan tujuan agar tidak dapat dimanfaatkan oleh tentara Jepang. Blokade laut yang dilakukan oleh kekuatan sekutu selama pendudukan Jepang juga memperparah kehancuran pelayaran dan perdagangan di kepulauan Indonesia. Pelayaran domestik di bawah pengawasan ketat dari pemerintahan Jepang bertujuan untuk kepentingan mereka sendiri. Hal ini telah melengkapi kemunduran Jaringan Laut Jawa dan bahkan maritim Indonesia secara umum. Kondisi tersebut tidak dapat pulih, ketika setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia KPM melakukan rekolonisasi ke perairan Indonesia. Makna politis lebih mewarnai proklamasi kemerdekaan Indonesia dibandingkan makna ekonomis. Secara politis memang Indonesia telah terbebas dari kolonisasi, namun secara ekonomi pemerintah Indonesia yang baru masih harus mengubah perekonomian kolonial menjadi perekonomian nasional.

Meskipun dunia pelayaran dan perdagangan Indonesia bertambah parah, namun penyelundupan dari dan ke Singapura masih tetap berjalan. Dalam periode revolusi, perdagangan Indonesia semakin bergantung dengan Singapura, peranan Jakarta semakin merosot sebagai salah satu pusat ekonomi luar Jawa, proses ini telah dimulai sejak pendudukan Jepang. Dalam periode revolusi juga dilakukan usaha rekolonisasi dari pelayaran Belanda di periaran Indonesia dengan cara mengaktifkan kembali armada KPM dan agen-agenya di Indonesia. Peranan KPM semakin meningkat pada periode revolusi.

Dalam periode pasca kolonial pemerintah Indonesia melakuakan berbagai usaha untuk membangun suatu perusahaaan pelayaran yang kuat miliki negara. Pemerintah Indonesia akan melanjutkan pekerjaan KPM sebagai warisan kolonial, namun dalam perkembangannya peranan KPM dan jaringannya diminimalisir sehingga perusahaan pelayaran nasional dapat dibentuk. Pada tahun 1954 didirikan PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia).  Tahun 1952-1957 persaingan antara KPM, PELNI, armada pelayaran swata Indonesia dan armada Singapura semakin mengikat. Hal ini semakin mendorong keinginan untuk meningkatkan jalur pelayaran dan perdagangan ke Singapura, sehingga mengakibatkan Singapura menjadi semakin penting bagi pelayaran dan perdagangan Indonesia. Namun hal ini juga berimplikasi kepada munculnya ketidakseimbangan Jaringan Laut Jawa yang cendderung memusat ke Singapura.

Peralihan kekuasaan Presiden Soekarno ke Soeharto juga berakibat pada perubahan kebijaksanaan mengenai hubungan Indonesia dan Singapura. Pada masa Soekarno, dominasi Singapura ingin dihilangkkan dalam pelayaran dan perdagangan Indonesia. Namun pada masa Soeharto, kebijakan rivalitas yang dilakukan pada masa pemerintahan Soekarno ingin diakhiri. Hal ini tentunya merugikan Jawa, yang semakin terpuruk dengan kebijakan tersebut. Jawa yang awalnya menjadi pesaing Singapura berubah menjadi subordinasi Singapura, secara tidak langsung kibajakan ini telah memberikan kemenangan kepada Singapura.

Pada masa Orde Baru, gagasan-gagasan reformasi terhadap pola pelayaran dan perdagangan interregional ditujukan untuk mendukung proses integrasi nasional. Dalam hubungan ini pelayaran dan perdagangan interregional digunakan untuk mendukung proses integrasi ekonomi secara internal dengan kembali memanfaatkan Jaringan Laut Jawa sebagai pola pelayaran nasional. Peranan Singapura yang semakin besar dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan regional dan internasional menjadi penghalang bagi usaha-usaha pemerintah Indonesia untuk mencipyakan kesianmbungan baru jaringan Laut Jawa. Singapura memiliki letak yang strategis dan teknologi yang canggih dalam bisnis pelayaran dan perdagangan, Jakarta kurang mampu merespon perubahan-perubahan dramatis dalam pola pelayaran global sehingga hal ini menjadi akibat pusat utama Jaringan Laut Jawa menjadi jauh tertinggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s