MEMOTRET DEMAK DARI SUNGAI (PENDEKATAN ETNOSAINS)

PENDAHULUAN

 

 

Dalam hidupnya manusia tidak akan lepas dengan lingkungannya. Semua lingkungan yang ada adalah bagian dari manusia sejauh adanya campur tangan dari manusia. Dan akan disebut lingkungan efektif, apabila lingkungan tersebut telah mendapatkan penafsiran dari manusia yang meliputi pemanfaatan, pemeliharan dan pelestarian terhadap lingkungan itu sendiri.

Salah satu rasionalitas dalam hubungan antara lingkungan dengan manusia adalah lingkungan turut ikut serta membentuk perilaku dan tindakan manusia dan juga sebaliknya tindakan dan perilaku manusia akan merefleksikan keadaan lingkungan yang ada disekitarnya. Lingkungan dapat dipahami secara berlainan oleh masyarakat yang memiliki latar budaya yang berbeda. Pemahaman tentang pengetahuan masyarakat yang diteliti terhadap lingkungannya inilah dalam antropologi yang disebut dengan ‘etnosains / etnoekologi’.

Sungai merupakan salah satu komponen abiotik yang terdapat dalam lingkungan. Pada zaman dahulu sebuah sungai dapat menjadi tempat munculnya sebuah peradaban. Namun bagaimanakah yang terjadi sekarang ? apakah manusia dapat memanfaatkan sungai secara fungsional dengan segala pemahaman yang dimilikinya?

Berikut akan diulas secara singkat  pemahaman masyarakat mengenai sungai, khususnya masyarakat di sekitar sungai di  terkenal dengan sebutan “sungai mekong” terpanjang di dunia. Mengapa bisa demikian?

 

PEMBAHASAN

 

DEMAK terletak di tengah-tengah jalur Pantura, jalur besar yang menghubungkan kota-kota disepanjang Pantura. Jalur utama Jakarta-Surabaya juga melewati jurusan ini. Letaknya yang demikian inilah yang menjadikan aktivitas sehari-hari masyarakat Demak dapat dilihat ketika orang-orang melintas di daerah ini.

Salah satu yang sering menjadi perhatian sekilas bagi orang-orang (luar kota) yang melewati Kabupaten Demak adalah sungai. Sungai menjadi latar strategis untuk memotret kebudayaan masyarakat Demak. Dari sungai, orang-orang melihat sebagian masyarakat dipinggiran sungai tengah mandi. “Kesegaran” khas inilah yang ditawarkan pada pra pengendara atau pelintas ketika melewati kawasan Sayung dari arah Semarang. Atau dari arah Demak menuju Jepara atau Kudus. Di sungai-sungai yang sejajar dengan jalan raya itulah mudah dijumpai peerempuan mandi sekadar berpinjung jarik dan laki-laki telanjang dada. Hal ini lebih mengarah kepada etika dan estetika kebudayaan sebagai kota yang menjadi jantung perlintasan di daerah-daerah Pantura.

Kota Demak memiliki “Sungai Mekong” terpanjang di dunia. Sungai Mekong merupakan kiasan bagi sungai yang dipergunakan untuk aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus).

Banyak orang bertanya-tanya mengapa (sebagian) warga Demak betah mandi atau mencuci di sungai. Sementara airnya kotor, terlihat dari air Sungai Tuntang dan Sungai Buyaran yang berada disisi jalan Semarang-Demak yang berwarna hijau. Sungai tersebut tampak tak berarus dan mirip seperti genangan air belaka. Fakta tersebut tidak berbeda dengan sungai di sepanjang jalan Demak menuju Kudus atau Jepara yang juga kotor.

Aktivitas MCK yang dilakukan warga di sungai merupakan pemandangan yang sedikit mengganggu bagi pelintas jalan. Seperti telah diketahui masyarakat umum yang telah melampaui masa post-tradisional bahkan dapat dikatakan modern. Mandi ditempat terbuka adalah tidak mengindahkan etika. Hal ini berkaitan dengan wacana tubuh yang secara pribadi harus ditutupi dari ruang sosial demi suatu tujuan etis maupun estetis.

ETNOSAINS MASYARAKAT DEMAK TERHADAP SUNGAI

Sungai adalah sebuah keyakinan kuno tentang kesuburan. Secara mitologis, sungai merupakan siklus kelahiran dan proses regenerasi. Dahulu kala, leluhur Jawa menjadikan sungai sebagai tempat menyucikan diri yang merupakan lambang dari upaya manusia menghalau kekuatan jahat yang mengancam (Robby Hidajat dalam Jurnal Kebudayaan Jawa, 2006).

Mitos semacam ini dikuatkan dengan fakta bahwa seorang susuhan lahir di tanah Demak dengan jalan menyucikan diri ditepi sungai. Sunan Kalijaga (salah satu dari Walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa) kemudian mengantarkan Demak mendapat sebutan Kota Wali hingga kini. Secara geografis, sungai adalah kekayaan alam yang sangat berharga bagi manusia. Sungai adalah representasi kesuburan suatu daerah.

Kerajaan Demak masih berdiri kokoh pada kurun abad XVI. Sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Demak pernah menjadi daerah maju ketika perekonomiannya ditopang oleh perairan seperti sungai untuk pertanian. Bahkan sungai menjadi jalur transportasi kapal-kapal yang menghubungkan titik-titik perniagaan dengan bandar laut yang menjadi pusat arus barang niaga di pantai utara Laut Jawa.

Dari hal-hal tersebut maka tertanamlah pemahaman yang turun temurun berakar di masyarakat Demak khususnya masyarakat dipinggiran sungai. Adanya pemahaman lain seperti : apabila air dalam sungai tersebut mengalir, maka anggapan masyarakatnya air tersebut dapat digunakan untuk keperluan mereka bahkan untuk keperluan beribadah (berwudhu).

Padahal yang terjadi adalah daerah Demak menjadi jalur perlintasan Pantura, dengan kata lain jalan raya yang sejajar dengan sungai tidak pernah sepi oleh pelintas jalan. Sudah barang tentu berbagai orang dengan latar budaya yang tidak sama dengan masyarakat Demak melihat aktivitas-aktivitas disekitar sungai. Mereka yang tidak memiliki latar budaya yang sama dengan masyarakat Demak, mempunyai pemahaman tersendiri terhadap aktivitas yang dilakukan di sungai tersebut. Yang ada dibenak mereka pastilah hanya kesan kumuh yang diperlihatkan apabila melintas di daerah Demak. Karena warga Demak melakukan aktivitas MCK di sungai tanpa adanya batasan-batasan tertentu dalam melakukannya.

 

Secara tidak langsung keadaan sungai tersebut dapat membentuk perilaku dan tindakan masyarakatnya sendiri. Sungai di Demak yang telah mengalami pendangkalan akhirnya hanya meninggalkan kesan sungai yang kotor untuk digunakan dan bahkan tidak layak. Namun bagi masyarakat yang tinggal disekitar sungai, hal tersebut dianggap biasa dan sungai masih dapat dimanfaatkan. Terlebih jika masyarakat disekitar sungai belum memiliki fasilitas umum yang memadai seperti WC atau air bersih di rumah mereka masing-masing. Sehingga perilaku yang muncul dari orang-orangnya sendiri terkesan jorok, kumuh dan tidak bersih. Sebaliknya tindakan yang dilakukan oleh manusianya sendiri dapat mencerminkan bagaimana kondisi sungainya.

Aktivitas MCK secara langsung mengotori sungai. Ini disebabkan oleh zat-zat kandungan sabun mandi maupun sabun cuci yang kemudian larut dalam air sungai. Sementara, sungai yang kotor merepresentasikan area slum atau daerah kumuh. Hal ini tidak sama pada zaman dahulu, orang-orang belum menggunakan sabun sehingga tidak mengakibatkan air sungai tercemar. Mengingat sungai-sungai besar di Demak masih menjadi saluran irigasi vital bagi pertanian, maka pengotoran air sungai sangat merugikan.

Orang-orang tidak sadar dan tidak berpikir jauh tentang persoalan ini. Padahal lambat laun hal ini dapat mengurangi produktivitas pertanian karena kualitas air yang berangsur-angsur memburuk. Oleh karena itu, aktiviitas MCK yang memanfaatkan sungai perlu dicarikan alternatif lain dengan tidak memutus hubungan masyarakat dengan sungai itu sendiri. Hal ini demi menghapus stigma buruk agar julukan ‘Sungai Mekong Terpanjang’ yang berkonotasi buruk dapat dihilangkan.

Pemanfaatan sumberdaya alam untuk kegiatan pertanian tidak hanya dalam hal masalah ekologis, tetapi terkait erat dengan aspek ekonomis, sosial, dan budaya. Dengan kata lain mereka yang tinggal di kawasan tersebut mempunyai kepentingan jangka panjang untuk memelihara kelangsungan sumberdaya yang ada agar tetap berfungsiuntuk kehidupan dan penghidupan manusia.

Alangkah lebih bijak jika apabila masyarakat pengguna sungai membuat tempat-tempat mandi didalam rumah masing-masing sementara airnya tetap diambil dari sungai dengan bantuan pompa air. Pola seperti ini tidak akan mengotori air sungai maupun menggangu pemandangan mata.

CITRA KOTA WALI

 

Jargon Demak Beramal (bersih, elok, rapi, anggun, maju, aman serta lestari) selayaknya ditunjukkan dengan tata kehidupan yang selaras antara etika dan estetika. Salah satunya dengan mendayagunakan sungai sebagaimana mestinya. Diperlukan kesadaran kolektif warga sekitar sungai yang berda di tengah-tengah ruang publik untuk menjadikan sungai bersih dan nyaman diipandang mata.

Demak juga terkenal sebagai kota yang tingkat religiusitas masyarakatnya cukup tinggi. Ini tak lepas dari sejarah Demak sebagai pusat persebaran Islam di Jawa. Citra yang demikian seharusnya mendorong untuk bersikap hidup bersih dan tertata sebagai perwujudan cermin hidup yang agamis. Bahwa” kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Semua titik produktif yang menopang kemajuan Demak itu akan semakin mempunyai daya tarik jika didukung dengan kota yang bersih, tertata dan bere(ste)tika.

 

PENUTUP

 

 

Dapat disimpulkan bahwa sungai merupakan bagian dari lingkungan manusia. Sungai dikatakan efektif apabila telah ditafsirkan oleh manusia yang ada disekitarnya. Dan yang terjadi di Sungai Demak memang sungai tersebut telah ditafsirkan oleh masyarakatnya, namun jika dilihat dari kondisi yang diperlihatkan, sepertinya sungai tersebut belum dikatakan sebagai sungai (lingkungan) yang efektif dan masih diperlukan adanya penfsiran kembali tentang sungai itu sendiri.

Kegiatan yang dilakukan dalam pemanfaatan sungai di Demak lebih kurang tidak mencerminkan adanya kesamaan budaya dengan masyarakat diluar Demak dalam menggunakan sungai. Cara pandang atau inside view masyarakat Demak terhadap sungai yang telah disampaikan sebelumnya dan ternyata hanya memperlihatkan fenomena yang kurang etis dan estetis. Hal tersebut berujung kepada pengetahuan yang berbeda antara (sebagian) masyarakat Demak dengan pelintas jalan yang melewati daerah Demak yang menganggap kegiatan-kegiatan disekitar sungai di Demak tidak layak dilakukan di masa modern seperti ini (berkaitan dengan MCK)

Untuk itu pemahaman yang lebih modern tentang kehidupan sekitar sungai harus ditanamkan dibenak masyarakatnya. Sehingga tidak akan terjadi kesalahan dalam memanfaatkan lingkungan dengan baik dan benar juga dapat menghindarkan dari berbagai gejala buruk akibat kerusakan lingkungan yang tidak digunakan secara fungsional.

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

http:// www.suaramerdeka.com  (diunduh 15 Nov 2011)

Materi kuliah : Mahendra/Antropologi Ekologi

Rahall, J.P., 1995. “Kearifan Budaya Masyarakat Lokal Melestarikan Lingkungan”.

Analisis CSIS, 24 (6).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s