Perempuan Pejuang ; Sejarah Para Perempuan Pejuang di Nusantara

Biar sejarah yang bicara ......

Seluruh insan yang dicipta oleh Al-Kholiq Yang Maha Pencipta, memiliki tujuan penciptaan yang sama yaitu untuk menjadi Hamba-Nya yang mengabdi kepada Maha Raja Penguasa Langit dan Bumi Allah SWT. Dia lah yang telah menyempurnakan penciptaannya baik insan laki-laki maupun insan perempuan. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana pula Allah menganugerahkan kepada lelaki segala potensi aqliyah, ruhaniyah dan jasmaniyah. Kepada mereka berdua dianugerahi Allah potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus.

Tak ada beda antara lelaki dan perempuan di hadapan Allah, semuanya diberikan fungsi dan peran yang sama untuk memikul tanggung jawab hidup di dunia sebagai Khalifatullah di bumi. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang kewajiban yang sama antara lelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan bahkan diperintahkan untuk bahu membahu bekerja sama untuk mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.

Dan orang-orang yang…

Lihat pos aslinya 1.593 kata lagi

Warisan Sejarah

Biar sejarah yang bicara ......

warisanApa yang kita peroleh dari orang tua kita yang telah meninggalkan alam fana? sebagai anak “yang ditinggalkan”, ada hak yang diperoleh dari orang tua yaitu warisan berupa harta benda yang dimilikinya. Apa yang diwariskan oleh Rosululloh Muhammad SAW kepada umatnya? “Aku tinggalkan dua warisan, selama kedua-duanya kamu pegang teguh maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Al-Qur`an dan Sunnah Rasul-Nya (Hadist) “.

Kata warisan merupakan serapan dari bahasa arab. Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah ‘berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain’, atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Warisan diartikan sebagai peninggalan, yaitu segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Wujud warisan berupa kebendaan dan non-benda.

Dalam pengajaran sejarah, yang dimaksud dengan peninggalan sejarah itu bisa berupa: (1) Tulisan ; prasasti dan naskah kuno, (2) Bangunan ; candi, benteng, masjid, istana atau keraton, (3)

Lihat pos aslinya 1.431 kata lagi

Runtuhnya Kerajaan Demak

Gambargambar diunduh dari : http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/1?q_searchfield=demak

Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Trenggana  mempunyai enam orang putra. Putra sulung adalah seorang putri yang dinikahi oleh Pangeran Langgar, putra Ki Ageng Sampang dari Madura. Putra ke dua seorang laki-laki yang bernama Pangeran Prawata yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Demak ke tiga. Putra ke tiga seorang putri yang menikah dengan Pangeran Kalinyamat. Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan seorang pangeran dari Kasultanan Cirebon.  Putra ke lima juga putri menikah dengan Raden Jaka Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Ada pun putra bungsu adalah Pangeran Timur, yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat.

RUNTUHNYA KERAJAAN DEMAK

Perebutan tahta kerjaan Demak dimulai setelah meninggalnya Raja Kedua yaitu Pati Unus. Peristiwa ini menimbulkan peperangan  berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan. Perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pangeran Sekar dengan Pangeran Trenggana.  Kedua pangeran ini memang berhak menduduki tahta Kesultanan Demak. Dari segi usia, Pangeran Sekar  lebih tua sehingga merasa lebih berhak atas tahta Kesultanan Demak dari pada Pangeran Trenggana. Namun Pangeran Sekar lahir dari istri ke tiga Raden Patah, yaitu putri Adipati Jipang, sedangkan Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama, putri Sunan Ampel.  Oleh karena itu Pangeran Trenggana merasa lebih berhak menduduki tahta Kesultanan Demak (Djuliati Suroyo dkk, 1995: 29 dan Slamet Mulyono, 1968: 120). Lanjutkan membaca “Runtuhnya Kerajaan Demak”

KERAJAAN DEMAK SEBAGAI KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI PESISIR UTARA PULAU JAWA

Gambar

Kehadiran dan penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa dapat dibuktikan berdasarkan data arkeologis dan sumber-sumber babad, hikayat, legenda, serta berita-berita asing. Kehadiran Islam baik para pedagang maupun mubalig muslim di kota-kota yang sejak semula sudah berfungsi sebagai pelabuhan-pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha. Berita asing dari Cina yang ditulis Ma-Huan dari sekitarr tahun 1433 M, berita Portugis terutama dari Tome Pires (1512-1515) memberikan gambaran tentang kehadiran para pedagang dan ulama di kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Islamisasi yang terjadi dibeberapa kota pesisir utara Jawa dari bagian timur sampai barat lambat laun menyebabkan muncunya kerajaan-kerajaan Islam, berturutturut dari Demak ke arah barat muncul Cirebon dan Banten, dan dari Demak ke arah pedalaman mundul kerajaan Pajang dan Mataram. [1]
Lanjutkan membaca “KERAJAAN DEMAK SEBAGAI KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI PESISIR UTARA PULAU JAWA”

Tak Hanya Kartini : Siti Aisyah We Tenri Olle, Penyelamat Sastra Warisan Dunia “I La Galigo”

Great..

Biar sejarah yang bicara ......

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih hatur tangkyu buat Mba Widi Astuti yang telah bersedia mengirimkan tulisannya yang katanya Insya Allah sebentar lagi akan terbit dalam bentuk buku tentang Tokoh Pergerakan Perempuan Islam Indonesia. Kedua, jelang peringatan hari Kartini 21 April, lewat tulisan “Tak Hanya Kartini” banyak hal yang perlu perenungan ulang terhadap simbol perjuangan perempuan yang sematkan pada R.A. Kartini. Dalam tinjauan historis “Tak Hanya Kartini” berarti sebelum Kartini banyak perempuan-perempuan Indonesia yang punya peran penting dalam pergerakan dan perjuangan melawan penjajahan Belanda. “Tak Hanya Kartini” berarti pula masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang perannya melebihi peran Kartini. “Tak Hanya Kartini” dalam pandangan kekinian berarti pula perempuan-perempuan Indonesia di masa kinipun musti bisa berkarya dan berjuang untuk sebuah keyakinan dan cita-cita yang luhur dan mulia. Dan terakhir… “Selamat Hari Perempuan Indonesia

Selanjutnya masih melanjutkan kiriman tulisan dari Mba Widi Astuti tentang tokoh pergerakan perempuan Islam di…

Lihat pos aslinya 1.351 kata lagi

Tak Hanya Kartini

Biar sejarah yang bicara ......

Oleh : Widi Astuti (Mushida Salatiga) : Penggemar Sejarah Islam, terutama tokoh pergerakan perempuan Islam di Indonesia. Tulisannya bisa dilihat di widi80.blogdetik.com

_______________

Selalu ada nuansa lain di bulan April. Berbagai sekolahan, instansi pemerintah, swasta, ataupun organisasi kemasyarakatan  berlomba-lomba mengadakan berbagai kegiatan  untuk memperingati Hari Kartini. Sebagai puncaknya di tanggal 21, kaum Hawa mengenakan kain kebaya dan sanggul secara serempak.

Fenomena ini sudah menjadi tradisi bertahun-tahun lamanya. Tak ada yang tak mengenal Kartini. Hampir seluruh anak bangsa menjadikan Kartini sebagai satu-satunya pahlawan tokoh pergerakan perempuan Indonesia. Sosoknya menjadi fenomenal, menjadi ikon kemajuan perempuan Indonesia. Padahal kalau kita mau melihat sejarah secara jujur , sebenarnya banyak sekali perempuan Indonesia yang hebat, setara ataupun bahkan melebihi Kartini.

Jika Kartini dielu-elukan karena pemikirinnya untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Maka Rohana Kudus dari Sumatera Barat sudah selangkah lebih maju. Dia tak hanya sebatas wacana seperti Kartini. Tapi sudah mewujudkan wacana tersebut dalam bentuk konkret…

Lihat pos aslinya 652 kata lagi

Tak Hanya Kartini : Malahayati, Laksmana Perempuan Pertama di Dunia

Biar sejarah yang bicara ......

Melanjutkan tulisan kiriman dari Widi Astuti “Tak Hanya Kartini” (Tulisannya bisa dilihat di widi80.blogdetik.com). Kali ini beliau mengirimkan tulisan ke admin serbasejarah tentang Malahayati.

__________________

MalahayatiJika kita berbicara tentang Aceh, maka yang terbayang di benak kita adalah para mujahid dan mujahidah  yang berjuang  gigih tanpa pamrih. Aceh telah melahirkan begitu banyak pahlawan. Sungguh heroik perjuangan putra-putri Aceh dalam melawan penjajah. Tak ada satupun penguasa Aceh yang mau bekerjasama dengan penjajah. Ini menyebabkan Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak pernah dikuasai oleh penjajah.

Kegigihan pejuang Aceh melawan penjajah tidak bisa dilepaskan dari kultur masyarakat Aceh yang sangat relijius. Aceh merupakan tempat pertama kali Islam masuk ke bumi nusantara. Ini dibuktikan dengan peninggalan berupa makam Sultan Malik al-Saleh raja Samudra Pasai yang wafat pada tahun 1297 M di Pasai, Aceh Utara. Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Sejak saat itu landasan ajaran Islam sangat mempengaruhi perjalanan…

Lihat pos aslinya 1.215 kata lagi